SUMENEP, koranmadura.com – Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rektor Universitas Wiraraja (Unija), Alwiyah, jumlah pengrajin batik di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, terus berkurang dari tahun ke tahun. Penelitian itu dilakukan dalam rentang waktu 2014-2016.
“Pengrajin batik di Sumenep, berdasarkan data yang dapat di lapangan, semakin tahun semakin berkurang. Sudah sangat jarang pemuda yang mau menjadi pengrajin batik,” katanya, 2 Oktober 2017.
Salah satu faktor penyebabnya, membuat batik membutuhkan ketelatenan, rajin, sabar, dan butuh waktu lama. “Sementara untuk memasarkannya dengan harga mahal bahkan bisa go internasional tidak mudah. Butuh kerja sama dan dukungan dari banyak pihak, termasuk pemerintah,” sambungnya.
Tidak hanya para pengrajin batik di Sumenep, para pengusahanya juga minim. Berdasarkan data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, jumlah pengusaha batik di Sumenep sebanyak 15 orang. “Tapi di lapangan ternyata hanya ada empat. Karisma, Melati, Barokah, dan Cantheng Koneng,” ujar dia.
Karena itu, lanjut Alwiyah, ke depan tidak hanya pengrajinnya yang digalakkan. Akan tetapi, akses pemasarannya juga harus dipikirkan bersama. Agar batik Sumenep dikenal masyarakat internasional.
Saat ini batik Sumenep belum dikenal masyarakat internasional. Yang dikenal justru batik Madura. Padahal, secara usia, batik asal kabupaten paling timur Pulau Madura ini, khususnya batik Pakandangan, Kecamatan Bluto, usianya lebih tua dari batik Madura. “Batik Sumenep jauh lebih tua dari batik Madura, yaitu mulai 1269,” ujarnya.
Lain lagi Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep, Sufiyanto. Dia mengklaim jumlah pengrajin batik di daerahnya banyak. “Jumlahnya 200 lebih,” ujarnya. (FATHOL ALIF/RAH)