SUMENEP, koranmadura.com – Banyak pria beruntung dikaruniai pasangan dan keluarga yang bahagia, namun rasanya pria inilah yang paling beruntung di antara mereka.
Bagaimana tidak, sekalipun sudah 19 tahun ia lumpuh dan untuk duduk dari pembaringan saja ia butuh bantuan orang lain, ternyata ada wanita muda yang mau dipersunting untuk menjadi pasangan hidupnya.
Namanya Budari. Ia lahir 44 tahun lalu, tepatnya tahun 1973. Ia hidup di Pulau Tonduk, Kecamatan Raas Kabupaten Sumenep. Untuk sampai di pulau ini, koranmadura.com harus naik kapal fery dari pelabuhan Kalianget menuju Pulau Raas selama kurang lebih 5 setengah jam. Setelah itu harus menyebrang lagi menggunkan kapal kayu selama kurang lebih 30 menit.
Saat koranmadura.com tiba di kediamannya ia tampak berbaring di sebuah gubuk yang didempetkan dengan rumahnya. Jangankan tembok, dinding dari gedek bambu pun tidak ada. Di dekat kepalanya terdapat sebuah kursi dan selang air yang dipasang semi permanen. Rupanya disitulah ia biasa dimandikan oleh istrinya.
Di atas kursi itu terdapat terpal yang digulung. Bila sedang mandi, terpal tersebut diturunkan agar Budari tidak terlihat tetangga yang sedang lewat. Selain itu terpal tersebut juga diturunkan pada malam hari saat hendak tidur, mungkin supaya ia sedikit terlindung dari terpaan angin malam.
Menurutnya, ia menderita lumpuh sejak tahun 1992. Diduga, kelumpuhan tersebut karena ia melakukan penyelaman mencari teripang di dasar laut tanpa alat dan prosedur yang benar. “Saya menyelam menggunakan kompresor yang biasa digunakan memompa ban. Itu saya lakukan selama 2 tahun, setelah itu saya kram dan lumpuh,” terangnya.
Sebenarnya ia bukan tidak tahu bahwa menyelam tanpa alat dan prosedur yang benar cukup berbahaya. Sebab sebelum dia lumpuh sudah banyak tetangganya yang mengalami hal serupa. Tapi karena godaan penghasilan yang cukup menggiurkan, ia rela mengabaikan bahaya. “Dulu, satu kilo gram teripang hargnya Rp 2 juta. Sekali menyelam saya bisa dapat 1 kilo gram, bahkan lebih,” tuturnya.
Oleh karenanya ia tak merasa takut sekalipun kedalaman laut yang ia selami mencapai 30 hingga 50 meter. Ia mengaku baru akan naik ke permukaan bila persediaan udara pada kompresornya habis. “Bisa satu sampai dua jam mas. Apalagi kalau barang yang mau kita ambil di bawah sedang cukup banyak,” lanjutnya dengan antusias.
Namun akhirnya itu semua harus ia bayar dengan harga yang cukup mahal. Setelah dua tahun menyelam, ia mengalami hal yang sama dengan tetangga-tetangganya yang dulu juga berprofesi sebagai penyelam. Menurutnya, mula-mula kakinya tidak bisa digerakan, kemudian seluruh kekuatan pada tungkai lututnya memudar. Dan setelah itu, hanya badan bagian atasnya saja yang berfungsi normal.
Hingga tahun 2009 ia tak bisa berbuat banyak, namun usianya yang waktu itu masih cukup muda membuat naluri lelakinya tak mau surut. Walau telah 19 tahun lumpuh, Budari melamar Lilik Musdalifah, perempuan yang waktu berumur 21 tahun. Entah bagaimana ia meyakinkan perempuan itu, tak lama kemudian mereka menikah.
Kini, setelah 8 tahun berlalu, pasangan ini dikaruniai seorang putri berumur 4 tahun 10 bulan. Namanya Hikmatus Sakinah. Sedang lincah-lincahnya, apalagi kini sudah mulai masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Sayang sekali, saat putrinya mulai tumbuh, kesehatan Budari justru makin menurun. Kini tangannya pun mulai tidak bisa digerakkan dengan normal. Bahkan untuk mengepalkan tinju saja ia kesulitan. Selain itu pandangannya mulai kabur dan selalu mengeluarkan cairan. “Saya harus menggunakan kacamata, tapi sayangnya ini sudah mulai rusak dan tidak berfungsi dengan baik,” katanya sambil menunjukkan kacamatanya.
Ia mengaku tak bisa membeli yang baru karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ia harus tergantung pada orang lain. “Dulu pernah jualan pulsa, tapi malah tekor. Akhirnya saya hidup dengan pemberian orang lain saja,” ujarnya.
Kalau ada sesuatu yang paling ia harapkan hari ini, itu adalah jamban di dekat gubuk, tempat ia sehari-hari terbaring lemas. “Kalau ditanya keinginan, tidak banyak mas. Saya hanya ingin jamban yang dekat dengan pembaringan saya ini. Biar istri saya tidak kesulitan kalau bopong saya untuk buang air besar,” ucapnya penuh harap.
Selama ini ia sudah datang ke beberapa dukun dan orang pintar untuk mengobati penyakitnya, namun ia tak kujung sembuh juga. Saat ditanya apakah pernah ke dokter, ia mengaku tidak punya biaya. Kalaupun pernah ditangani secara medis, itu hanya dilakukan oleh perawat puskesmas Kecamatan Raas yang ditugaskan ke desa-desa.
“Lalu bagaimana nih Bang, masih ingin punya anak lagi?”
“Sayang mungkin sudah tidak bisa,” jawabnya lirih. (BETH)