SUMENEP, koranmadura.com – Mushalla di Pulau Tonduk, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep ini tidak begitu besar. Bagian dalamnya mungkin hanya muat untuk 25 orang. Sementara pada bagian emper luarnya mungkin muat untuk 40 orang. Letaknya tepat di pinggir jalan desa dan berjarak hanya 30 meter dari bibir pantai.
Menjelang matahari terbenam, lelaki setengah baya masuk ke dalam mushalla. Tak ada orang lain di mushalla itu kecuali dia dan koranmadura.com yang baru saja shalat ashar. Karena pasokan listrik di Pulau Tonduk kini sudah lumayan baik, ia langsung bisa menghidupkan mesin pengeras suara untuk mengumandangkan adzan.
Suaranya memang tidak semerdu As-Sudais, imam Masjidl Haram yang terkenal itu, tapi sudah cukup pantas dinyaringkan dengan pengeras suara untuk memanggil warga agar segera menunaikan shalat.
Begitu ia selesai adzan, beberapa orang anak perempuan datang memasuki mushalla,l. Mereka membawa mukena untuk shalat berjemaah maghrib. Umur mereka sekira 6 sampai 9 tahun. Setelah itu beberapa orang anak lain juga datang, tiga bocah lelaki dan 4 bocah perempuan. Hanya ada satu jemaah yang sore itu terlihat sudah dewasa. Ia rupanya ustadz yang biasa membimbing anak-anak belajar mengaji.
Sambil mendengarkan sang ustadz mengajar, koranmadura.com berbincang dengan lelaki separuh baya yang tadi mengumandangkan adzan dan menjadi imam shalat. Ia mengenalkan dirinya bernama Yazid. Menurutnya mushalla tersebut dulu ia beri nama Mushalla Darul Jannah, namun belakangan ia ubah menjadi Mushalla Gaul. “Setiap hari yang shalat jamaah di sini hanya anak kecil dan beberapa pemuda. Yang tua-tua tak ada yang mau datang, makanya diubah saja menjadi Mushalla Gaul,” terangnya dengan mimik sama sekali tak terlihat sedang bercanda.
Ia sangat berharap bukan hanya anak kecil yang datang ke mushalla, tapi juga orang-orang dewasa. “Sayangnya mereka mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaaannya,” terang Yazid.
Proses belajar mengaji al-Quran di mushalla ini tidak jauh beda dengan mushalla pada umumnya. Beberapa papan selebar setengah meter disandarkan pada dinding mushalla. Cat hitamnya tampak masih baru. “Alhamdulillah meski apa adanya, kami tetap bisa membimbing anak-anak ini. Apalagi sekarang di desa kami sudah ada listrik, meski menggunakan diesel. Itu sangat membantu,” terangnya.
Sejak dua tahun terakhir, pasokan listrik di Pulau Tonduk relatif memadai. Tepatnya sejak perusahaan pengeboran minyak, Kangean Energy Indonesia (KEI) merealisasikan program Corporate Social Responsblty (CSR)-nya di pulau berpenduduk sekitar 6500 jiwa itu. Mereka mendatangkan dua mesin genset dengan kapasitas 130 KVA dan membangun jaringan listrik ke mushalla ini dan juga ke rumah-rumah penduduk.
“Alhamdulillah, adanya listrik ini membuat anak-anak semangat belajar mengaji. Tapi susahnya kalau pas lagi padam, mereka jadi gak mau datang ke mushalla ini,” tuturnya sembari menyapukan pandangannya ke arah anak-anak yang sedang belajar mengaji.
Ia berharap suatu saat nanti listrik bisa dipasok langsung oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). ia berkeyakinan, pasokan listrik PLN akan lebih stabil dan lebih bisa digunakan secara leluasa ketimbang listrik yang dipasok hanya dengan mesin genset. (BETH)