SUMENEP, koranmadura.com – Transportasi laut di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, untuk rute Pulau Masalembu kembali menuai protes. Kali ini datangnya dari warga Masyarakat pulau tersebut.
Salah seorang tokoh masyarakat Pulau Masalembu, Albar menyatakan saat ini, warga kepulauan yang hendak ke daratan harus menggunakan perahu motor milik warga, sehngga membutuhkan waktu sangat lama.
“Kemarin saya berangkat dari Masalembu pukul 13.00 Wib. Sampai di pelabuhan Kalianget sekitar pukul 07.00 Wib tadi pagi. Jadi, kami mengarungi laut selama 16 jam,” kata Albar, Rabu, 18 Oktober 2017.
Menurutnya, cuaca di perairan Sumenep masuk semi ekstrem, sehingga perahu yang melayani rute Sumenep-Masalembu terpaksa harus mengikuti arus. “Ombak besar kalau malam,” tuturnya.
Biasanya, lanjut Albar, transportasi laut ke Pulau Masalembu menggunakan dua kapal motor, yakni Sabuk Nusantara 56 dan Sabuk Nusantara 57. Rutenya dari Pulau Masalembu-Surabaya baru berlayar ke Pelabuhan Kalianget. Akan tetapi, keduanya sudah dua bulan tidak beroperasi.
Keadaan tersebut sangat merugikan warga Masalembu, baik dari sisi waktu ataupun materi. Jika menggunakan kapal perintis, warga dikenakan biaya transportasi Rp 24-35 ribu. Apabila menggunakan perahu dikenakan biaya Rp 50 per satu kali jalan.
Selain itu, masih kata Albar, kondisi itu pun berdampak pada laju perekonomian warga. Salah satunya, stok sembako saat ini mulai menipis. Akibatnya harga sembako mengalami kenaikan dari hari-hari biasanya. “Rata-rata sembako naik sekitar 3-5 persen, karena biaya transportasi menggunakan perahu lebih mahal,” jelasnya.
Melihat kenyataan ini, Albar hanya bisa mengurut dada. Menurut dia, seharusnya pemerintah setempat tidak berpangku tangan. “Pemerintah harus bisa memberikan solusi. Kan Pemerintah Daerah punya kapal. Mestinya itu ditambah rutenya sehingga transportasi tidak seperti sekarang,” ucapnya.
Kepala Dinas Perhubungan Sumenep, Sustono belum bisa dimintai keterangan (JUNAIDI/ RAH)