SUMENEP, koranmadura.com – Ketua Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Hosnan Hermawan mengakui banyak peserta pengawas pemilu kecamatan (Panwascam) melobi pihaknya selama proses rekrutmen anggota Panwascam. “Pasti ada, tidak direspons,” kata Hosnan saat dikonfirmasi di tempat kerjanya.
Panwaskab sejak awal berkomitmen tidak menggaransi salah seorang peserta pun. Dengan begitu semua pendaftar mempunyai hak yang sama. “Prinsip kami apabila menggaransi si A, maka otomatis kami menutup peluang si B sampai Z, dan ini sama halnya memotong peluang itu,” kilahnya.
Disinggung soal adanya titipan karena hampir 80 persen inisial yang beredar masuk di tiga besar, akademisi asal Pulau Gili Raja, Kecamatan Giligenting itu, mengaku tidak menghiraukan. “Kami selama ini tidak melakukan hal itu (titipan). Kemudian hasil analisa di luar terserah. Kami tidak pernah melakukan itu,” jelasnya.
Hosnam menyamakan munculnya inisial itu dengan hasil quick count saat pelaksanaan pemilu. Dengan begitu keabsahan dugaan adanya titipan masih perlu diuji. Dia menegaskan hingga saat ini, pihaknya mengaku belum menerima bukti autentik adanya titipan, baik berupa hasil chating atau rekaman telepon.
Apalagi kata Hosnan, sejak pengaduan masyarakat terhadap calon Panwascam dibuka sampai ditutup, tidak seorang pun warga mengirimkan keluhan kepada panitia seleksi atupun komisioner. “Kan ada yang lulus, ada yang tidak (inisial yang muncul). Namanya tebak-tebakan,” tandasnya.
Diketahui, pasca pengumuman hasil tes tulis rekrutmen Panwaslu Kecamatan (Panwascam) di Kabupaten Sumenep, beredar isu bloking kecamatan antar komisioner Panwaskab Sumenep, hingga dugaan ‘titipan’. Bahkan ancaman akan dilaporkan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). (JUNAIDI/RAH)