SUMENEP, koranmadura.com – Di bawah guyuran hujan, Gerakan Mahasiswa Ekstra Parlemen (Gempar) kembali turun jalan melakukan unjuk rasa di depan kantor Bupati Sumenep, Madura, Jawa Timur, Selasa, 21 November 2017.
Aspirasi yang disampaikan sejumlah mahasiswa kali ini tak jauh beda dengan yang telah disampaikan pada aksi sebelumnya, 30 Oktober 2017, bertepatan dengan Hari Jadi Sumenep ke-748.
Tak Ditemui Bupati, Mahasiswa-Polisi Terlibat Aksi Saling Dorong
Para mahasiswa ini kembali menagih janji politik Bupati dan Wakil Bupati Sumenep terkait jargon ‘bangun desa, nata kota’. Menurut koordinator aksi, Mahfud Amin, janji pemerintah untuk membangun desa dan menata kota hingga sekarang tak jelas.
“Jargon politik bangun desa nata kota tidak jelas. Penilaian ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan teman-teman ke sejumlah desa. Sedikitnya kami telah melakukan survei ke 27 desa di daratan. Belum kepulauan,” ujarnya.
Sayangnya, aspirasi mereka tak tersalurkan kepada para pemangku kebijakan di kabupaten paling timur Pulau Madura. “Tadi tidak ada sama sekali perwakilan Pemkab menemui kami. Makanya kami sangat kecewa,” tambah Mahfud.
Sebagai ungkapan kekecewaan, para mahasiswa ini menggelar salat gaib dan tabur bunga di depan kantor Bupati. “Kami sepakat akan kembali melakukan aksi yang lebih besar sampai aspirasi kami diterima dan janji-janji politik Bupati dan Wakil Bupati terpenuhi,” pungkasnya. (FATHOL ALIF/MK)