SAMPANG, koranmadura.com – Kampus Politeknik Negeri Madura (Poltera) dianggap kurang linier oleh salah seorang anggota DPD RI, Ahmad Nawardi.
Menurutnya, program yang ditawarkan oleh salah satu kampus teknik di Madura tersebut tidak memiliki program studi teknik perminyakan, padahal di Madura khususnya di wilayah Kabupaten Sampang, Sumber Daya Alam (SDA) sektor minyak dan gas (migas) melimpah ruah. Saat ini justru dikuasai oleh investor asing.
“Seharusnya Poltera itu dibangun menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Madura. Tapi, prodinya tidak menyesuaikan dengan jurusan yang ada di beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sampang. Di SMK hanya adanya jurusan administrasi, desain interior, tata boga dan komputer, tetapi yang ada di Poltera jurusan perkapalan. Seharusnya orang Madura protes. Pemerintah melalui kementerian pendidikan harus menyiapkan fakultas yang sesuai dengan kebutuhan orang Madura, bukan kebutuhan orang di luar Madura,” tandasnya, Selasa, 21 November 2017.
Secara terpisah, Humas Poltera Taufik Hidayat menyatakan program yang ditawarkan kampusnya sudah linear dengan jurusan yang ada di SMK. Jurusan yang ditawarkan berupa tiga program di antaranya, Teknik Listrik Industri, Teknik Mesin Alat Berat, dan Teknik Bangunan Kapal.
“Kalau di SMK ada jurusan otomotif, maka bisa ke prodi teknik mesin alat berat, kemudian kalau dari jurusan pengelasan bisa masuk ke prodi teknik bangunan kapal, dan jurusan kelistrikan bisa masuk ke prodi teknik listrik industri,” paparnya.
Meskipun begitu, Taufik Hidayat mengakui, karena kampusnya baru, kemungkinan orang Madura belum tertarik dengan beberapa jurusan yang ada saat ini. Atas masukan itu, pihaknya berjanji akan membuka program studi baru perminyakan sebagaimana kebutuhan masyarakat Madura.
“Nanti kami juga akan berupaya bekerja sama dengan beberapa perusahaan migas yang beroperasi di Madura, sehingga diharapkan para mahasiswa lulusan Poltera mempunyai peluang untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan migas,” tandasnya. (MUHLIS/RAH)