SUMENEP, koranmadura.com – Kerajinan batik di Sumenep, Madura, Jawa Timur, sudah ada sejak lama. Namun, sejauh ini nama batik Sumenep masih kalah mentereng dari batik-batik daerah lain. Termasuk Pamekasan dan Bangkalan.
Hal itu diakui oleh peneliti sekaligus pemerhati batik di Indonesia, Mien A Rifai saat berkunjung ke Sumenep dalam rangka menjadi juri pada acara “Fashion On The Street Sumenep Batik Festival”, Sabtu, 9 Desember 2017.
“Saya juga ingin mengetahui apa akarnya. Kenapa batik Sumenep kalah dengan batik yang lain. Kenapa nama batik Sumenep kalah sama batik Pamekasan dan Bangkalan,” jawabnya ketika dikonfirmasi penyebab batik Sumenep kalah bersaing dengan daerah lain.
Mien menuturkan, sebenarnya batik Sumenep sangat bagus. Desainnya rapi sekali. Sehingga batik Sumenep mudah dikenali. “Hal ini harus dipertahankan oleh semua pihak,” tambahnya.
Sementara saat disinggung mengenai peran pemerintah dalam pengembangan batik, menurutnya pemerintah terkesan cuek. “Ini kesan saya, selama ini pemerintah cuek,” tegasnya.
Seperti diketahui, sama dengan daerah lain di Madura, sebenarnya Sumenep juga memiliki sentra batik, yaitu di Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto. Hanya saja, dari ke hari para perajin batik di kabupaten paling timur Pulau Madura ini terus berkurang. FATHOL ALIF/MK