SUMENEP, koranmadura.com – Namanya nenek Tijah. Di usia senjanya, dia hidup sebatangkara di gubuk reyot miliknya di Desa Sera Timur, Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Rumah nenek Tijah tak cukup luas. Panjang sekitar 4 meter. Sementara lebarnya 3 meter. Bagian depan rumahnya terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan bagian samping dan belakang berupa gedung. Meski sudah retak-retak.
Dapur nenek Tijah menyatu dengan tempat di mana ia tidur. Di sana tak tampak ada kamar mandi, kecuali dua buah gentong sebagai wadah air di depan rumahnya. Dia juga tak punya kasur.
Nenek Tijah tak memiliki suami. Keturunan juga tak punya. Menurut pengakuannya, dia tidak lahir di kabupaten paling timur Pulau Madura ini, melainkan di Jawa. “Tidak tau,” jawabnya berbahasa Madura ditanya berapa umurnya sekarang, Kamis, 11 Januari 2017.
Saat ini nenek Tijah sudah tak bisa keberja seperti di masa mudanya. Penglihatanya sudah kabur. Dia mampu terus menyambung hidupnya karena mendapat bantuan.
Bantuan yang diterimanya beruapa beras, mie, gula, dan lainnya. Bahkan dia mengaku pernah mendapat bantuan uang. Nominalnya nenek Tijah lupa. Tapi itu sudah lama ia terima. “Berasnya sudah habis,” tutur dia.
Salah seorang tetangganya, Moh. Jayyid menuturkan, sehari-hari nenek Tijah menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di rumahnya yang menurutnya sudah tidak layak huni. “Karena sudah tidak bisa melihat,” katanya. (FATHOL ALIF/FAIROZI)