PAMEKASAN, koranmadura.com – Aksi demonstrasi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan petambak garam di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, berujung bentrok dengan aparat kepolisian setempat, Jumat, 9 Februari 2018.
Bentrok fisik antara massa dengan pihak kepolisian ini tak terhindarkan ketika massa yang menolak rencana impor garam oleh pemerintah tidak ditemui langsung oleh Ketua DPRD Pamekasan, Halili Yasin.
Akibat bentrokan itu, Ketua PMII Cabang Pamekasan Moh. Fadil jatuh pingsan. Bahkan harus dilarikan ke rumah sakit.
Ketua I PMII Pamekasan, Mohammad Abror mengatakan, Moh. Fadil pingsan bukan karena adu fisik dengan pihak kepolisian, tetapi mahasiswa dari Universitas Madura (Unira) itu kecapaen.
“Pingsannya ketua cabang kami saat aksi berlangsung mungkin karena kecapekan, karena dari kemarin sampai tadi malam kami melakukan kajian secara mendalam, sehingga mungkin karena terbawa emosi barusan dan mungkin juga karena kurang istirahat,” kata Mohammad Abror.
Dikatakan, bentrok dengan pihak kepolisian yang mengamankan aksi di luar konsep. Bentrok itu secara sepontan terjadi karena polisi menghalangi massa bertemu dengan ketua DPRD.
“Ada empat instansi yang kami minta untuk menemui massa aksi. Termasuk ketua DPRD Pamekasan. Namun tidak ada satupun yang menemui kami, sehingga kami memaksa untuk masuk namun dihalang-halangi oleh petugas kepolisian,” terangnya.
Massa PMII dan petambak garam menyatakan menolak keras rencana pemerintah impor garam dari Australia sebanyak 3,7 juta ton. Mereka menilai, impor garam itu akan berdampak negatif kepada petambak garam, utamanya di kota Pamekasan. (RIDWAN/MK)
Baca: Tolak Impor Garam, PMII dan Petambak Garam Demo Kantor DPRD Pamekasan