JAKARTA, koranmadura.com – Di Pilgub Jatim 2018, Emil mendampingi Khofifah Indar Parawansa, sedangkan pesaingnya Syaifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno. Bakal Calon Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak mengatakan dirinya mendengar kabar telah unggul.
“Saya mendengar bahwa kita sudah relatively slightly unggul. Suatu perkembangan yang positif, karena Bu Khofifah start dengan handicap. Beliau melawan pesaing yang bukan hanya inkamben karena dia bekerja, tapi dia bersosialisasi juga sangat ekstensif dalam waktu yang relatif panjang sebagai seseorang yang mau maju jadi gubernur,” kata Emil saat berkunjung ke Transmedia, Gedung Trans TV, Jl Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Kamis, 8 Februari 2018.
Meski mendengar kabar unggul, Emil tak mau jemawa. Dia mengatakan tak merasa lebih hebat dibanding kompetitornya. “Ada yang mengatakan karena satu-satunya perwakilan milenial itu adalah saya, karena calon lainnya berkisar 50 semua usianya, 50 kurang dikit atau 50 lebih dikit, maka kemungkinan itu bisa direbut. Tapi, saya mengatakan tidak seotomatis itu, teman-teman milenial itu sangat kritis, tidak asal comot anak muda terus mereka langsung menganggap ini wakil saya. Saya harus membuktikan dulu, bahwa saya bisa menjawab harapan generasi milenial,” ulas pria 37 tahun ini.
Emil meyakini para anak muda ingin pemimpin yang responsif dan berpikir out of the box. “Saya merasa ada keuntungan satu, saya punya track record sebagai seorang pemimpin yang bisa dilihat bagaimana eksistensi saya di media sosial apakah gaya kepemimpinannya itu berkenan di hati teman-teman itu saya kembalikan ke teman-teman milenial untuk menjawab. Cuma hasil analisa kita kemarin yang diminta generasi milenial itu pemimpin yang spontanious, inovatif, thinking outside the box, menggunakan approach-nya anak muda,” tutur Emil.
Tentang pemimpin milenial, Emil menyontohkan Presiden Jokowi. Menurut Emil, gaya kepemimpinan Jokowi memenuhi selera pemilih milenial. “Jokowi secara usia dia nggak… nggak milenial, tapi harus diakui orang-orang menganggap dia itu berkenan di hati milenial, karena spontanious-nya itu, benar-benar bukan pemimpin yang terkungkung birokrasi dan protokol,” ujarnya. (detik.com/rah/tor/erd)