JAKARTA, koranmadura.com – Anak mati karena keracunan air ketuban dan keracunan kehamilan. Dua istilah ini akrab di telinga kita. Tapi, sebenarnya, keracunan air ketuban itu tidak ada, alias salah kaprah. Hal ini diungkapkan oleh seorang dokter spesialis kandungan dan kebidanan, Benny Johan Marpaung.
Menurutnya, di dalam rahim ibu, janin memang menerima asupan nutrisi lewat air ketuban. Itu tidak bisa disebut sebagai keracunan ketuban. “Tidak ada keracunan air ketuban sebenarnya. Yang ada adalah Meconium Aspiration Syndrome (MAS). Ini di mana air ketuban bercampur dengan kencing dan tinja janin. Lalu terhirup janin,” ujarnya.
Janin yang menyerap air kemih dan fesesnya sendiri akan mengalami kesulitan bernapas hingga memunculkan gangguan pernapasan. Risiko keracunan lantas muncul. Dikatakan Benny, akibat terburuknya, janin mati saat dalam kandungan.
Sedangkan keracunan kehamilan, menurut Benny, sejatinya toksimia. Pemicunya kurang pasokan oksigen dan nutrisi lewat plasenta, sehingga berkurang aliran darah ke bayi. Kurangnya aliran darah bisa disebabkan oleh preeklamsia. Dalam kondisi itu, ibu hamil dilanda hipertensi hebat. Tanda yang ditunjukkan yakni tekanan darah naik, protein pada urine meningkat, kaki mengalami pembengkakan. Kondisi itu bisa menyebabkan pendarahan.
Pendarahan selain bisa memicu toksimia juga dapat memicu stroke pada ibu hamil karena pembuluh darah di otak pecah. Para wanita yang memasuki periode 20 minggu kehamilan diminta waspada munculnya preeklamsia. Deteksi dini perlu diupayakan agar tidak berdampak buruk pada janin maupun ibu.
Benny belum bisa memastikan penyebab preeklamsia. Tetapi, Benny mengira, karena rahim perempuan terinseminasi sperma pria. “Hamil, kan perempuan dititipi “saham” laki-laki. Itu kan benda asing sama seperti transplantasi. Implantasi plasenta pada dinding rahim ini, mungkin saja bikin tekanan darah meningkat,” ujarnya. (kompas.com/rah/vem)