SAMPANG, koranmaura.com – Jenazah Ahmad Budi Cahyono, seorang guru tidak tetap (GTT) mata pelajaran (mapel) Kesenian di SMA 1 Torjun, yang dianiaya oleh Moh Holili, siswa kelas XII SMA 1 Torjun, sudah dikubur, Jumat, 2 Februari 2018.
Baca juga:
- Biadab! Siswa Tega Aniaya Gurunya Hingga Meninggal
Inilah Rekam Jejak Siswa Penganiaya Guru Hingga Meninggal
Prosesi pemakaman almarhum dihadiri Bupati Sampang Fadhilah Budiono, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Syaiful Rachman, Kepala UPTD Disdik Provinsi Jatim Cabang Sampang, Disdik Sampang, segenap guru, siswa dan warga setempat.
Pantauan koranmadura.com, pemakaman dilakukan sekitar pukul 08.45 wib di Kampung Pleyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota. Selama proses pemakaman, arus lalu lintas sempat terjadi kemacetan hingga 500 meter di dua sisi yakni arah barat dan timur.
Kasatlantas Polres Sampang, AKP Musa Bakhtiar melalui Kanit Pengaturan Penjagaan Pengawalan dan Patroli (Turjawali) Iptu Budi Nugroho mengatakan, meski terjadi kemacetan, pihaknya tidak melakukan penutupan jalan. “Sampek macet sepanjang 500 meter di sisi barat dan timur,” tuturnya.
Dalam mengatur arus lalu lintas, setidaknya ada sebanyak 50 personel yang diterjunkan. “Anggota gabungan yang melakukan pengawalan ada sebanyak 50 anggota dari Satlantas dan Sabhara,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Ahmad Budi Cahyono meninggal dunia setelah dianiaya oleh siswanya sendiri, Moh Holili, Kamis, 1 Februari 2018. Kejadian bermula saat proses pembelajaran mapel seni lukis.
Holili tidak mendengarkan pelajaran justru mengganggu siswa lainnya. Akibat itulah, siswa tersebut dicoret pipinya menggunakan cat lukis. Dimungkinkan tidak terima, siswa tersebut kemudian memukul gurunya. (MUHLIS/MK)