SUMENEP, koranmadura.com – Direktur RSUD Moh Anwar Sumenep, Madura, Jawa Timur, dr Fitril Akbar mengatakan rumah sakit sangat dibutuhkan untuk memberikan layanan kesehatan yang berkualitas terhadap masyarakat setempat.
Karena itulah, kata Fitril, rumah sakit harus menunjukkan kualitas layanan yang optimal. “Jangan sampai membuat masyarakat takut berobat, apalagi merasa khawatir ditolak dan tidak dilayani,” ucapnya pada koranmadura.com, Rabu, 14 Februari 2018.
Menurutnya, mutu kualitas layanan itu dapat diukur dengan akreditasi rumah sakit tersebut. Petugas kesehatan diharapkan berupaya memberikan layanan kesehatan yang sebaik-baiknya terhadap pasien. Selain itu, Fitril juga memberikan penjelasan pada koranmadura.com tentang aturan main di rumah sakit yang dipimpinnya, termasuk mengenai membuka cctv tentang insiden nyaris adu jotos antara seorang pegawai RSUD itu dengan seorang anggota DPRD setempat ke publik.
Tragedi itu terjadi pada Jumat, 9 Pebruari 2018, sekitar pukul 13.30 WIB. Berawal dari seorang keluarga pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H. Moh. Anwar Sumenep, Madura, Jawa Timur, Indra Wahyudi menjenguk pamannya yang menjalani rawat inap di rumah sakit itu.
Saat hendak keluar, Indra mendapati pintu dalam keadaan tertutup, karena sudah di luar waktu besuk pasien. Indra minta kunci kepada salah seorang perawat rumah sakit. Bukannya dibukakan pintu, menurut Indra, dirinya justru mendapat perlakuan kurang elok.
“Saya minta tolong petugas untuk membukakan pintu. Saya juga menjelaskan bahwa saya adalah anggota dewan kebetulan harus melaksanakan tugas kedewanan ke luar kota. Saya khawatir ketinggalan pesawat,” ucap Indra.
Salah seorang perawat berusaha mencari kunci. Namun, ada perawat lainnya, belakangan diketahui bernama Sugiyanto, menolak dan menyemprotnya dengan kata-kata kasar seraya menggebrak meja. Suasana jadi tegang. “Meski sampean anggota dewan, saya tidak takut!” kata Indra menirukan ucapan Sugiyanto.
Politisi Demokrat itu mengaku kecewa. Menurutnya, perawat rumah sakit harusnya bisa bersikap lebih ramah, baik kepada pasien maupun keluarganya. “Kok bisa seorang perawat berlagak seperti preman? Seharusnya perawat memberikan pelayanan yang baik kepada keluarga pasien, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Koranmadura.com yang berusaha mengonfirmasi peristiwa itu ke Direktur RSUD H. Moh. Anwar Sumenep, namun Fitril Akbar baru merespons beberapa jam kemudian, tepatnya usai adzan magrib. Waktu itu, Fitril mengaku sudah menerima laporan terkait insiden tersebut, namun belum bisa menentukan sikap karena masih perlu mengklarifikasi terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.
Keesokan harinya, Sabtu, 10 Pebruari 2018, Sugiyanto memberikan penjelasan kepada sejumlah awak media bahwa yang berkata kasar pertama kali adalah Indra. “Saya tidak tahu waktu itu dia siapa. Saya tidak membeda-bedakan. Dia minta kunci dengan nada kasar sambil menerima telepon dari sejawatnya, mungkin,” katanya.
Sugiyanto menjelaskan, saat diminta Indra, kebetulan kuncinya sedang dibawa cleaning servis yang membuang sampah. Teman Sugiyanto minta Indra menunggu. “Tapi dia (Indra), keluarga pasien ini langsung bentak-bentak. Saya keburu. Saya ada acara. Ini sudah hampir terlambat,” kata Sugi balas menirukan ucapan Indra.
Sugiyanto meminta Indra agar tidak berteriak-teriak sebab pekikan suaranya mengganggu banyak pasien. Upayanya gagal, ketegangan terus berlanjut, sehingga mereka jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sekita tempat tersebut.
Sugi mengakui waktu itu dirinya memang sempat menggertak dan menggebrak meja. Ketegangan mulai berakhir setelah Indra diajak keluar oleh kepala ruangan. Tidak terima terhadap penjelasan Sugi, Senin, 12 Pebruari 2018, Indra Wahyudi mengadakan jumpa pers. Saat itu, ia bersama sejumlah aktivis yang tergabung dalam Front Pemuda Madura (FPM).
Dalam jumpa pers tersebut, salah satu poin yang disampaikan, dia minta pihak RSUD membuka CCTV rumah sakit. Agar publik bisa mengetahui kejadian yang sebenarnya, dan tak sampai menimbulkan fitnah. “Silakan buka CCTV itu,” tantang Indra.
Sementara aktivis FPM, Kayyis mengaku prihatin terhadap insiden tersebut. Saat itu, ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Indra untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum. Untuk membuktikan siapa yang benar dalam peristiwa itu dan memberikan pelajaran kepada seluruh stakeholder RSUD agar bisa bertindak lebih baik ke depannya.
“Jika memang tidak ada reaksi dan niat baik dari pihak rumah sakit untuk berbenah, ya terpaksa kami akan bawa kasus ini ke ranah hukum. Hal seperti itu tidak bisa dibiarkan,” kata Kayyis.
Lebih jauh Kayyis menyatakan bahwa FPM juga menyusun laporan tentang insiden itu akan dikirimkan ke Kementerian Kesehatan RI agar menjadi bahan pertimbangan Kementerian dan meninjau ulang akreditasi RSUD dr. H. Moh. Anwar.
Menanggapi tekanan dari kubu Indra ini, Fitril menegaskan rumah sakit memang memiliki rekaman CCTV peristiwa itu, namun ada aturannya untuk dibuka ke khalayak ramai. “Kalau sekiranya legal, kami tidak ada masalah,” ucap Fitril, Selasa, 13 Pebruari 2018.
Apalagi tupoksi utama rumah sakit, kata Fitril, memberikan pelayanan kepada pasien, baru keluarga pasien. Jadi titik tekan manajemen rumah sakit ini ialah memberikan kenyamanan, keamanan, dan ketenangan kepada pasien. Fitril berharap kejadian serupa tidak terulang di hari-hari yang akan datang. “Kami juga minta masukan dan kritik konstruktif dari semua elemen masyarakat agar rumah sakit ini bisa terus lebih baik,” ucapnya. (MADANI/FATHOL ALIF/RAH)