PAMEKASAN, koranmadura.com – Salah seorang calon bupati Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Kholilurrahman blusukan di pasar 17 Agustus Pamekasan, Kamis, 8 Maret 2018, pagi. Sejumlah orang di pasar itu yang melihat kedatangannya langsung mendekati mantan bupati Pamekasan periode 2009-2013 tersebut. Utamanya pedagang batik.
Mereka menyampaikan keluhannya. Di antaranya disampaikan oleh Kholifah. Pedagang asal Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasan ini mengaku dagangan batiknya tidak laris.
“Selama satu minggu ini sepi Pak Kiai. Sobung se ngobangi (tidak ada pembeli). Kondisinya beda kiai. Dulu, batik Pamekasan jaya, sekarang sepi,” kata Kholifah, dengan logat Madura.
Perempuan berusia 45 tahun itu meminta kepada Kholilurrahman agar mengangkat daya jual batik di Pamekasan jika terpilih sebagai bupati pada Pilkada 2018.
Cerita krisis penjualan batik di Pamekasan juga dialami Rofiqi, asal Klampar Pamekasan. “Kadang Pak Kiai, selama seminggu hanya laku satu lembar batik,” papar Rofiqi.
Mendengar pengaduan mereka, Kholilurrahman langsung berjanji akan berupaya memenuhi permintaan para pedagang itu. “Insya Allah nanti kami akan perbaiki daya jual batik ini. Doakan, semoga saya dan Fathorrahman sukses di Pilkada nanti,” jawab Kholilurrahman.
Menurut mantan DPR RI ini, salah satu penyebabnya karena minim promosi. “Untuk meningkatkan kembali daya jual batik khas Pamekasan ini, perlu ada inovasi dari pemerintah. Salah satunya adalah promosi tingkat nasional atau iklan berbentuk papan dan bentuk promosi lainnya guna menjaga stabilitas harga batik,” ucapnya.
Selain itu, lanjut Kholilurrahman, memperketat masuknya batik-batik luar, karena untuk melarang tidak mungkin. “Bagaimana caranya? Nanti kita atur. Kemudian membangunkan pasar tradisional khusus batik. Tidak campur dengan yang lain. Tidak bisa kalau batik dicampur-campur dengan yang lain,” imbuhnya. (RIDWAN/RAH/DIK)