SAMPANG, koranmadura.com – Pulau Mandangin, Kecamatan Kota, Sampang, Madura, Jawa Timur, mengalami krisis air bersih dan air tawar untuk kebutuhan penduduknya mencapai belasan ribu jiwa. Keadaan ini menuntut kerja keras Pj Bupati Sampang, Jonathan Judianto.
Menurut Jonathan Judianto, salah satu caranya bisa memanfaatkan pembangunan Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) dengan terknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang dibangun sejak 2012. Program ini bantuan Pemerintah Pusat yang dialokasikan melalui APBD TA 2011 senilai Rp 11 miliar.
Mesin SWRO sempat dikelola PDAM Trunojoyo sejak 2013-2016. Karena alasan rugi, akhirnya dihentikan. Pada 2017 diwacanakan akan diserahkan pengelolaannya pada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) setempat. Akan tetapi, kondisinya sudah rusak akibat tak terpakai.
“SWRO disana masih belum bisa dioperasionalkan, karena kalau dioperasikan itu beban biayanya Rp 19 ribu per meter kubik. Jadi itu tidak mungkin. Kita tidak mempunyai kekuatan untuk membeli itu,” tutur Jonathan, Selasa, 27 Maret 2018.
Beban biaya itu untuk berbagai komponen mesin SWRO, di antaranya membran, energi pembangkit, penggunaan bahan kimia dalam proses osmosis yang menjadikan air laut menjadi air tawar, dan keperluan pompa airnya.
“Nah, itu komponen-komponen terbesarnya. Semisal kebutuhan energinya pakai solar sell (energi matahari) itu akan membantu. Kemudian untuk membran dan bahan kimianya, rencananya minta bantu ke pusat, sehingga pemkab hanya menyediakan pompa saja. APBD tidak mampu menyediakan (komponen) itu semua,” terangnya.
Apabila komponen-komponen tersebut mendapat bantuan dari pusat, lanjut Jonathan, maka beban biaya Rp 19 ribu per meter kubik akan bisa turun menjadi Rp 5 ribu per meter kubik. Sedangkan kapasitas mesin SWRO bisa 50 meter kubik per detik.
“Awalnya, percobaan. Kapasitasnya diturunkan menjadi 5 liter per detik. Harganya Rp 12 ribu, dan itu hanya konsep awal. Secara teknis dan kultural harus tetap dilakukan. Masyarakat untuk mendapatkan air bersih harus membeli. Peran pemerintah itu harus menekan harganya seminimal mungkin. Jadi, hitungan saya, angka Rp 5 ribu per meter itu masih bisa dijangkau,” ucapnya.
Selain itu, Jonathan menyatakan dirinya pernah berkunjung ke Pulau Mandangin beberapa hari lalu. Temuannya, dari 74 tempat titik resapan sumur di Mandangin, hanya ada satu titik sumur yang memiliki air tawar. Kekurangan air bersih menyebabkan munculnya beberapa penyakit menyerang warga Mandangin saat ini. (MUHLIS/RAH/DIK)