JAKARTA, koranmadura.com – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menilai sosok Ma’ruf Amin cocok jadi Cawapres Jokowi. Hal ini diungkapkan oleh Ketum PPP Romahurmuzie.
“Ada figur yang sangat cocok itu dari sejak bulan Desember, tapi ada satu syarat yang agak jauh dari kriteria itu (usia), yaitu KH Ma’ruf Amin,” kata Rommy, sapaan akrab Romahurmuziy, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 13 Maret 2018.
Menurutnya, latar belakang Ketua Majelis Ulama Indonesia bisa diterima oleh hampir semua lapisan masyarakat, terutama kaum muslimin.
“Beliau sosok fakih, kiai, seorang ulama, seorang Ketua MUI, bisa diterima semua ormas. Bukan hanya Rois dan PBNU, tapi juga semua ormas Islam bisa menerima, bahkan Geng 212 dipastikan bisa menerima,” jelasnya.
Meskipun begitu, Rommy menegaskan PPP dipastikan tidak sembarangan menentukan dan mengusulkan cawapres. Karena itulah, keputusan partai kakbah itu mengenai cawapres Jokowi ditentukan dalam musyawarah alim ulama pada April mendatang.
“Sampai hari ini saya masih menunggu pandangan dan keputusan dari para ulama kami pada nanti munas ulama-ulama bulan depan. Kita tunggu saja fatwa dari beliau-beliau,” ucap anggota Komisi X DPR itu.
Kriteria Cawapres Jokowi versi PPP dilabeli nama ‘5 syarat dan 1 hati’, seperti disampaikan oleh Rommy. Masing-masing diuraikan sebagai berikut.
Jokowi butuh figur yang mampu mengawal narasi besar NKRI yang dibangun atas nasionalisme dan agama, di mana hubungan agama dan kekuasaan berjalan seiring dan seimbang. Sejak Bung Karno-Bung Hatta, kepemimpinan nasional selalu merefleksikan 2 narasi besar ini. Di era reformasi, ada Gus Dur-Mega, Mega-Hamzah, SBY-JK, dan Jokowi-JK. Itu menunjukkan bahwa dwi tunggal narasi ini tak terpisahkan.
Jokowi butuh figur agamis yang mampu mengurangi ujaran kebencian bernuansa SARA, karena lawan-lawan politiknya masih selalu melabeli Pak Jokowi dengan merek “anti-Islam, prokomunis dan pro-RRC”. Figur se-agamis apa pun memang tidak akan serta-merta menghilangkan ujaran kebencian, tapi setidaknya kalau figurnya agamis, akan mengurangi. Syaratnya satu: bahwa figur pendamping beliau tersebut memang memiliki nuansa agamis yang asli dan kuat. Jangan figur non-agamis yang diagamiskan.
Jokowi perlu figur yang memahami kaum milenial. Mengingat 39% pemilih pada 2019 berusia di bawah 40 tahun. Cawapres dari kalangan muda menjadi sangat diperlukan karena mereka memiliki selera, gimmick dan gaya komunikasi yang berbeda dengan generasi baby boomers.
Jokowi perlu figur yang memiliki pengalaman dan kompetensi intelektual menghadapi disrupsi ekonomi, transformasi digital dan persaingan di era Revolusi Industri 4.0. Figur populis belaka namun nirkapasitas akan menjadi persoalan jika nantinya terpilih. Maka pengalaman intelektual mengelola jabatan publik baik di eksekutif atau legislatif menjadi perlu.
Jokowi perlu figur yang dapat memberi sumbangan elektabilitas. Meskipun hal terakhir ini tidak mutlak, mengingat, pertama elektabilitas Pak Jokowi yang sudah cukup tinggi. Dan kedua, mesin partai-partai pengusung yang cukup banyak meniscayakan pergerakan lapangan lebih leluasa.
Kelima syarat di atas, lanjut Rommy, masih disesuaikan dengan rasa Jokowi. Yang terpenting adalah Pak Jokowi mesti diwakili orang yang secara chemistry beliau merasa nyaman dan bisa mengikuti irama kerja beliau. Nah, yang terakhir ini sudah soal nasib. Karena bisa diterima atau tidak adalah soal hati. “Betapa pun ia memenuhi kriteria, kalau Pak Jokowi nggak sehati, bagaimana bisa mendampingi?” ucapnya. (DETIK.COM/RAH/DIK)