BATU, koranmadura.com – Pelaksanaan program Visit 2018 di Sumenep dipandang belum sepenuhnya sesuai ekspektasi banyak pihak. Salah satu penyebab utamanya adalah minimnya sinergisitas program antar OPD di kabupaten setempat.
Hal ini diungkap Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Husnan A. Nafi’, di sela-sela rapat kerja (Raker) ISNU Cabang Sumenep, Sabtu 28 April 2018 di Kota Batu. Menurutnya tanpa sinergisitas, program Sumenep sebagai destinasi wisata syariah seperti dicanangkan pemerintah pusat akan sulit terwujud secara maksimal. “Ya, bagaimana bisa kalau masing-masing OPD jalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Oleh karenanya, pemerintah diharap melakukan konsolidasi secara serius dan membuat detail-detail kebijakan dengan berbasis data dan riset. “Tidak bisa hanya berdasar keinginan apalagi latah terhadap daerah lain,” sambungnya.
Selain itu, menurutnya yang lebih penting adalah pemberdayaan terhadap potensi-potensi lokal. Selama ini, kata pria yang juga sivitas akademika INSTIKA Guluk-Guluk ini, Pemerintah Kabupaten Sumenep terkesan tidak percaya diri untuk menggunakan potensi yang memang dimiliki. “Misalnya untuk riset, mereka seringkali kerjasama dengan lembaga riset dan perguruan tinggi di luar Sumenep. Padahal di Sumenep sendiri ada banyak perguruan tinggi yang SDM-nya tak kalah mumpuni,” jelasnya.
Penggunaan potensi lokal ini dipandang sangat penting untuk mendorong semangat organ-organ lokal agar terus berbenah diri. Kepercayaan yang diberikan kepada mereka dipandang akan memicu kesadaran dan kemauan mereka untuk terus menjadi lebih baik. “Kalau tidak pernah dihiraukan dan diberi tantangan, kapan bisa belajar dan berbenah untuk bersaing dengan dunia luar,” keluhnya.
Baginya, pemanfaatan potensi lokal harus juga dipandang sebagai upaya pemberdayaan dan upgrading terhadap SDM lokal. “Jangan hanya berorientasi pada hasil pragmatis pelaksanaan program dimaksud,” pungkasnya. (BETH/SOE/DIK)