JAKARTA, koranmadura.com – Selama kurun waktu tahun 2017, nilai ekspor ikan Republik Indonesia (RI) sebesar US$ 4,51 miliar atau Rp 60,8 triliun (kurs Rp 13.500).
Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo, Kamis, 19 April 2019. Menurutnya, ekspor ikan itu berasal dari lima negara tujuan terbesar, yakni Amerika Serikat (AS), Jepang, China, hingga Uni Eropa.
Dalam catatan KKP, nilai ekspor USA sebesar US$ 1.816 juta, Jepang sebesar US$ 672 juta, kemudian ASEAN senilai US$ 563 juta.
“Ekspor kita lima terbesar itu ada USA 40,2%, kemudian Jepang 14,9%, ASEAN 12,9%, China 9,9%, dan Eropa 7,6%,” jelasnya.
Sedangkan untuk produk ekspor, Nilanto mencatat, yang paling besar ialah Udang, kemudian disusul tuna-tongkol-cakalan, selanjutnya gurita, lalu kepiting, dan terakhir rumput laut. “Jadi itu lima produk ekspor utama di 2017,” kata Nilanto.
Dilanjutkan Nilanto, saat ini pasar Uni Eropa juga mulai dibidik sebagai pasar ekspor yang potensial untuk produk perikanan dan kelautan. Sebab, pasar tersebut belum banyak tersentuh pelaku usaha.
Selain itu, saat ini pemerintah sedang melakukan pembicaraan untuk menghilangkan tarif bea masuk dengan Uni Eropa dari 24%. Namun butuh kepastian dari perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) oleh Kementerian Perdagangan. Sehingga bila tarifnya 0%, maka potensinya bisa meningkat 24%.
“Itu besar sekali, seandainya impor tarif itu jadi 0%, tinggal nambah aja kaliin 24%. Di luar itu, on top dari itu semua tentu potensi produksi perikanan kita kan sgt besar, itu sedang kita upayakan supaya bisa naik maksimal. Seandainya nanti akhirnya dapat persetujuan Eropa tarif 0, itu akan menarik minat investasi masuk ke Indonesia, jadi bisa terlihat dari data tarif bea masuk itu saja sudah menunjukkan peluang,” paparnya. (DETIK.com/ROS/DIK)