KEDIRI, koranmadura.com – Motif asmara melatarbelakangi kasus pembunuhan Sunarti (39), perempuan yang mayatnya ditemukan terkubur dengan kaki menyembul di pemakaman umum Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, beberapa waktu lalu.
Tersangka Nur Kholik (43), mengaku tersinggung setelah korban meledeknya tidak akan mampu memuaskan hasrat seksual korban. Karena saat hendak berkencan mencari hotel, keduanya hanya putar-putar di sekitar Kota Kediri.
Sunarti dan Nur Kholik merupakan tetangga. Keduanya tinggal di Perumahan Taman Wisata, Tropodo, Sidoarjo.
Sejoli yang dimabuk asmara tersebut sebelumnya janjian untuk berkencan. Kedua insan itu kemudian bertemu di depan SDN Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Selanjutnya pelaku dan korban naik satu mobil milik korban. Keduanya juga sempat keliling mencari hotel di Kota Kediri untuk berkencan.
Sempat masuk ke salah satu hotel, namun saat hendak keluar dari mobil, korban kemudian balik lagi dengan alasan mau mencari makan. Dalam perjalanan itulah keduanya terlibat pertengkaran. Korban menuding pelaku yang tidak segera mencari kamar hotel tak akan mampu memuaskan hasrat seksualnya. Pelaku semakin tersinggung saat korban mengutakarakan masalah keluarga pelaku.
“Dia mengancam akan memelet (guna-guna) anak saya untuk memuaskan korban. Itu yang membuat saya jengkel,” ungkap Nur Kholik, seperti dikutip koranmadura.com dari tribunnews.com, Selasa, 22 Mei 2018.
Karena sudah jengkel, Nur Kholik kemudian mencekik leher Sunarti dengan tangan kiri. Upaya itu dilakukan dua kali karena saat dicekik pertama, korban masih bergerak dan sempat menendang pintu mobil. Setelah yakin korbannya tewas, pelaku kemudian membawa berputar putar hingga tengah malam.
Ide mengubur mayat korban di pemakaman umum Desa Tegowangi juga muncul spontanitas. Sebelum mengubur, pelaku sempat melakukan survei ke lokasi makam. Namun karena menjelang Ramadan areal makam masih ramai didatangi warga yang hendak nyekar. Pemakaman korban kemudian dilakukan tengah malam usai salat tarawih. “Saya mulai mengubur sekitar pukul 23.00 hingga tengah malam,” ujarnya.
Pelaku menggali makam setelah meminjam cangkul milik kerabatnya seorang diri di tengah kegelapan malam. “Saya sendirian menggali makam dalam kondisi gelap tanpa penerangan. Kemudian mayatnya saya turunkan dari mobil dan saya seret ke lokasi pemakaman,” ungkapnya.
Nur Kholik terpaksa menyeret mayat korban karena tidak kuat mengangkat mayat korban. Karena suasana gelap dan mengubur secara tergesa-gesa, Nur Kholik mengaku tidak begitu memperhatikan kaki korban yang masih menyembul di atas makam. Apalagi makam hanya digali sekitar setengah meter berlokasi di atas makam lama.
Usai mengubur, di atas pusaranya juga ditaburi kembang yang diambil dari lokasi makam lainnya. “Suasananya gelap saya tidak begitu memperhatikan,” ungkapnya.
Nur Kholik sendiri mengaku, terlibat perselingkuhan dengan korban masih belum begitu lama. Awalnya pria yang dipercaya keluarga korban sebagai penasehat spiritual itu diminta suami korban yang berprofesi sebagai kontraktor untuk memonitor gerak gerik korban. “Suami korban curiga istrinya telah selingkuh sehingga meminta saya untuk mengawasi,” ungkapnya.
Namun karena sering bertemu dan saling curhat, keduanya malah terlibat perselingkuhan. Pelaku mengaku sudah beberapa kali berkencan bersama korban. “Korban juga pernah bercerita kalau tidak puas dengan suaminya,” ujarnya.
Keesokan harinya setelah menghabisi korban, Nur Kholik sempat memberitahu suaminya dengan bahasa isyarat. “Saya sudah menghilangkan istri sampean. Istri sampean sudah minggat, saya tidak bisa mengembalikan lagi,” jelasnya.
Kapolres Kediri, AKBP Erick Hermawan menjelaskan, untuk mengungkap kasus ini sempat terkendala. Karena pelaku tidak terus terang dan selalu berbelit-belit. Namun setelah petugas menemukan alat bukti, barulah pelaku mengakui perbuatannya.
“Pelaku membawa barang bukti cangkul dipinjam dari rumah saudaranya. Sedangkan garu alat perata, diambil dari areal kuburan,” jelasnya.
Kasat Reskrim AKP Hanid Fatih menambahkan, pelaku sempat datang lagi ke lokasi kuburan pagi harinya. Malahan pelaku sempat bertemu dengan kades Tegowangi.
“Pelaku mengubur korban di pemakaman umum Desa Tegowangi karena lokasinya dekat dengan rumah kerabatnya,” tambahnya. (TRIBUNNEWS.com/ROS/DIK)