KORANMADURA.com – Adanya fatwa fardhu ain yang dikeluarkan oleh para pendukung Khofifah-Emil usai mengadakan pertemuan di Ponpes Amanatul Ummah, Mojokerto, 3 Juni lalu tak membuat kiai-kiai sepuh barisan Gus Ipul-Puti takut. Menurut Kiai Nurul Huda Djazuli dari Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri menilai bahwa dalil fatwa fardhu ain pilih Khofifah sangat subjektif dan tendensius.
“Jadi dalil yang disampaikan paslon lain sangat lemah dan penafsiran yang subyektif sekaligus tendensius. Sarat dengan kepentingan. Dan kiai-kiai sepuh mengarahkan dukungan kepada Gus Ipul yang melalui proses ijtihad, istikharah dan musyawarah merupakan cara-cara ulama di dalam menentukan pilihan,” ujar Kiai Nurul Huda Djazuli melalui Gus Kautsar kepada wartawan, Senin 25 Juni 2018.
Menurut Gus Kautsar, yang paling penting saat ini adalah membuat Pilgub yang akan berlangsung 27 Juni mendatang berjalan damai, guyub, adem dan warga Jatim bisa memilih dengan menggunakan hati nuraninya tanpa ada perasaan takut atas keluarnya fatwa fardhu ain itu.
“Warga tidak perlu takut dicap mengkhianati Allah SWT dan Rasulnya. Ini karena fatwa itu menggunakan dalil sepotong-sepotong dan dhaif. jadi ndak usah takut kalau milih selain Khofifah,” ujarnya.
Pernyataan ini dibuat untuk menangkal fatwa fardhu ain yang dihasilkan dalam pertemuan di Ponpes Amanatul Ummah, Mojokerto, 3 Juni lalu. Dalam pertemuan yang dihadiri Khofifah itu melahirkan surat fatwa bernomor 1/SF-FA/6/2018.
Mengutip dalil sebuah kitab, para ulama pendukung Khofifah-Emil yang diwakili KH Asep Saifuddin Chalim menyebut, umat Islam termasuk para Kiai yang tidak mendukung Khofifah sama dengan mengingkari Allah dan Rasul-Nya. Fatwa fardhu ain ini kemudian ramai dan menjadi polemik. (merdeka.com/SOE/DIK)