JAKARTA, koranmadura.com – Menristek Dikti M Nasir meminta rektor bertanggung jawab apabila ada organisasi mahasiswa yang terafiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kalau tidak, dia menyebut akan ada konsekuensinya.
“Rektor harus tanggung jawab. Kalau tidak tanggung jawab, mau diapakan,” ujar Nasir di sela seminar revolusi mental ‘Program Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia’ di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Juni 2018.
Baca: Dikabarkan dalam Pengawasan Paham Radikalisme, Begini Penjelasan Rektor UB
Bentuk tanggung jawabnya seperti apa? tanya wartawan. “Ya dia (rektor) menyelesaikan, kalau nggak mau, rektornya yang saya ‘selesaikan’,” tegasnya, lebih lanjut.
Nasir berencana mengumpulkan kampus-kampus khusus PTN pada 25 Juni 2018 mendatang. Hal ini merupakan buntut adanya kabar yang menyebut tujuh kampus terkenal di Indonesia terpapar paham radikalisme.
“Kalau kampus-kampus ini kan diverifikasi. Tanggal 25 nanti saya kumpulkan seluruh Indonesia, khususnya untuk PTN,” ujarnya.
Baca: Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Kampus ini
Sebelumnya, beredar kabar 7 kampus negeri terkenal di Indonesia disebut-sebut terpapar radikalisme. Menristek Dikti M Nasir menegaskan itu hanya persepsi dari hasil penelitian.
“Ini hanya dugaan. Saya tanyakan mana orangnya itu saya minta ditindaklanjuti. Saya sudah koordinasi, saya minta untuk siapa saja yang terlibat di dalamnya. Itu kan hanya penelitian, samplingnya di situ letaknya, men-judge gitu. Itu hanya persepsi, pendapat,” tandasnya. (DETIK.com/ROS/DIK)