SUMENEP, koranmadura.com – Tugas merawat NKRI adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Sikap bahu membahu merawat serta menjaga tanah air harus dipikul bersama-sama, lebih-lebih pada diri seorang santri.
Pesan ini dikemukakan pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep,Madura, Jawa Timur, KH. Muhammad Shalahuddin Warist, M.Hum dalam kegiatan Santunan dan Ngaji Bareng bersama Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Cabang Dungkek, di depan halaman Pendopo kecamatan setempat, Minggu Malam, 9 Juni 2018.
Kiai muda di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah ini menegaskan, jika seorang santri harus menjadi pewaris NKRI dan memahami perannya, sebagai warga negara yang baik.
Menurut putra alm. KH. A Warits Ilyas ini, sejarah keterlibatan ulama dan santri dalam aksi merawat NKRI sudah tidak diragukan lagi.
“Indonesia ini lahir karena adanya kesepakatan bersama, sebagai puncak kesadaran nasional sejumlah tokoh penting di negeri ini, yang di dalamnya juga melibatkan ulama. Sehingga, lahirlah NKRI, dan sepantasnya, para santri ikut merawat negeri ini,” tuturnya.
Lebih jauh, Kiai yanh biasa dipanggil Mamak ini menjelaskan, kesadaran untuk menjaga negeri ini harus belajar dari para ulama (terutama pendiri NU) yang melahirkan resolusi Jihad pada perang besar-besaran di Surabaya untuk menjaga kewibawaan kedaulatan NKRI dari tangan penjajah, yang berniat mengambil alih negeri yang sudah menyatakan kemerdekaannya.
“Dan meletuslah perang 10 November 1945 yang didalamnya, para ulama serta kaum santri ikut mengangkat senjata demi membela tanah air melawan penjajah,” jelasnya.
Beliau menilai, hanya bersenjata bambu runcing serta hasil senjata sitaan, para santri itu ikut merobek kedigdayaan tentara Inggris, hingga menewaskan Jenderal Mallaby.
Kiai Mamak meminta agar para santri benar-benar menjadi pewaris NKRI yang memahami bagaimana tugas-tugas sebagai warga negara yang baik.
Menurutnya, hal baik yang bisa dilakukan santri, salah satunya, tidak membiasakan menyebarkan konten berita negatif serta informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Beliau ikut mencemaskan, kebiasaan masyarakat, terutama anak-anak muda yang begitu antusias menyebarkan konten-konten kurang mendidik dan berpotensi melahirkan perpecahan rajutan kebangsaan NKRI.
Beliau berharap, agar seluruh alumni maupun santri aktif Pondok Pesantren Annuqayah, mulai belajar untuk tidak membiasakan diri mengeshare konten-konten yang belum diketahui kebenaran dan lebih banyak kebohongannya. Sebab itu, bisa berakibat buruk bagi kehidupan masyarakat.
“Bijaklah dalam membagikan pesan-pesan di media sosial,” harapnya.
Kiai Mamak tidak mempersoalkan, jika santri sekadar menyukai status dengan memberi “like”, pada setiap unggahan status seseorang. Namun, kurangilah menggunakan sosial media jika akhirnya hanya merusak dan menebarkan informasi hoax.
Kiai Mamak meminta agar para alumni Annuqayah untuk lebih sering melakukan pertemuan dalam bentuk musyarawah tatap muka, daripada sekadar ngalor ngidul di dunia maya, terlebih ikut menyebarkan berita-berita buruk. “Jangan menyumbang sesuatu yang negatif,” pesannya.
Di akhir acara, adik kandung K. Ali Fikri ini berharap agar seluruh santri yang tergabung di IAA menyadari perannya sebagai santri dan terus merasa punya tanggung jawab merawat NKRI. (SOE/D4N)