SUMENEP, koranmadura.com – Musim kemarau tahun ini diprediksi akan lebih lama dari musim kemarau tahun sebelumnya. Sehingga petani tembakau di Sumenep, Madura, Jawa Timur, berpotensi kekurangan air.
Hal itu dikatakan oleh Ketua Asosiasi Petani Indonesia (APTI) Sumenep, Rubaki. Menurutnya, sejauh ini bantuan pengeboran air dinilai tidak tepat sasaran, utamanya program pengeboran untuk pertanian.
“Kalau dilihat dari fakta dilapangan, bantuan bor kurang merata. Selama ini bantuam itu diberikan kepada wilayah yang sudah ada air. Sementara daerah yang kekurangan air tidak menjadi prioritas. Bisa saja nanti petani kekurangan air, karena musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang masanya,” kata Rubaki, Selasa, 12 Juni 2018.
Menurut Rubaki, di daerah lahan pertanian tembakau sangat jarang ada program pengeboran. Seperti di daerah Kecamatan Ganding, Guluk-guluk, dan Kecamatan Pasosongan. Dilihat dari lokasinya, tiga daerah itu merupakan daerah penghasil tembakau terbesar di wilayah barat Sumenep. “Tapi kenyataannya terkesan di anak tirikan,” jelasnya.
Oleh karenanya, pihaknya meminta pemerintah daerah untuk memikirkan hal itu. Utamanya bagi wakil rakyat yang ada di gedung parlemen. “Kalau airnya normal pasti kualitas tembakaunya akan bagus. Jika bagus, petani pasti untung,” tegasnya.
Saat ini, kata Rubaki, petani tembakau di beberapa wilayah sudah melakukan penanaman tembakau yang mencapai 20 persen. (JUNAIDI/ROS/DIK)