Jakarta, koranmadura.com – Keterlibatan perempuan dalam panggung politik, utamanya dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkda) selalu dipandang sebelah mata. Bahkan kouta 30 persen jauh panggang dari api. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari 171 daerah dan 1.145 calon Kepala Daerah, tercatat hanya 101 calon Kepala Daerah perempuan yang berani berlaga. Bandingkan dengan calon Kepala Daerah laki-laki yang berjumlah 1.045. Ini menandakan bahwa keterlibatan perempuan dalam ranah politik publik belum maksimal.
Namun, pada Pilkada serentak 2018 kali ini, perempuan sepertinya bukan lagi pemanis politik saja. Sebab berdasarkan hitung cepat (quick count) Pilgub 2018 yang melibatkan 17 provinsi memperlihatkan data yang cukup signifikan. Beberapa kandidat perempuan yang turut berlaga di pilgub benar-benar berjaya.
Politikus PPP, Okky Asokawati menyebut setidaknya ada tiga perempuan yang dinyatakan menang berdasarkan data quick count 17 pilgub yang digelar tahun ini. Ada yang menang sebagai cagub, ada juga yang jadi wagub.
“Khofifah Indar Parawansa untuk cagub di Pilgub Jatim, Chusnunia Halim untuk cawagub Lampung dan Siti Rohmi Djalilah untuk cawagub NTB. Saya menyampaikan selamat kepada para ibu yang unggul versi hitung cepat ini,” ujar Okky dalam keterangannya, Kamis (28/6/2018).
Okky menjelaskan, jumlah perempuan yang terlibat di Pilkada 2018, secara kuantitatif, mengalami peningkatan dari dua pilkada serentak sebelumnya (2015 dan 2017). Jumlah perempuan yang menjadi kandidat calon kepala daerah maupun calon wakil kepala daerah di semua tingkatan, menurut data Okky yakni sebesar 8,89% (101 calon perempuan dari total 1.136 kandidat).
Okky lalu memerinci latar belakang kandidat perempuan yang muncul dalam perhelatan pilkada serentak tahun 2018 ini. Sebanyak 43% merupakan kader partai, 39% mantan anggota parlemen dan 39% memiliki kekerabatan dengan pimpinan partai atau kepala daerah.
Merujuk data di atas, Okky berharap para pimpinan partai politik sangat mempertimbangkan mengajukan kader perempuan mereka di pilkada-pilkada selanjutnya. Okky mengatakan, kehadiran perempuan di ranah politik jangan hanya sebagai pemanis partai.
“Dari data tersebut dapat dijadikan rujukan bagi pimpinan partai politik untuk meningkatkan keterlibatan perempuan di partai politik dengan menempatkan dalam posisi penting yang tidak sekadar sebagai aksesori politik,” ucap Okky.
“Lebih dari itu, penempatan perempuan sebagai anggota legislatif baik di tingkat daerah maupun pusat, menjadi cara efektif untuk menjadi pintu bagi politisi perempuan untuk mengisi pos di eksekutif sebagai kepala daerah/wakil kepala daerah,” jelasnya.
Dengan kemenangan para ibu di Pilgub 2018, Okky ikut ueforis dan menaruh harapan besar terhadap emak-emak ini. Okky meminta para ibu yang akan jadi pimpinan daerah tersebut agar lebih memperhatikan isu-isu perempuan.
“Persoalan kesehatan ibu dan anak, keterlibatan perempuan di sektor ekonomi, perlindungan perempuan dari potensi kekerasan, harus menjadi perhatian kepala daerah terpilih,” ucap anggota DPR itu.
Sebenarnya ada sejumlah tokoh perempuan lain yang ikut Pilgub 2018, di antaranya adalah Puti Guntur Soekarno yang jadi Cawagub Jatim dan Karolin Margret Natasha yang jadi Cagub Kalbar. Namun di quick count mereka tertinggal dari lawan-lawannya.
(detik.com/SOE/D4N)