SUMENEP, koranmadura.com – Munculnya gundukan pasir di Pulau Gili Raja, Kecamatan Giligenting, Sumenep, Madura, Jawa Timur, sempat menghebohkan warga.
Gundukan pasir yang berada ditengah laut itu dianggap aneh. Warga menganggap itu adalah fenomena alam. Karena sebelumnya gundukan pasir dengan panjang sekitar 150 meter dan lebar sekitar 40 meter itu hanyalah tumpukan karang.
Lokasinya sangat jauh dari bibir pantai. Untuk sampai ke gundukan tersebut, warga harus menyeberangi laut dua kali. Pertama warga menyeberangi laut dari pelabuhan Cangkareman, Kecamatan Bluto menuju Pulau Gili Raja.
Dari pelabuhan cangkareman terdapat dua rute untuk sampai ke pulau yang terdiri dari empat desa, yakni Desa Jate, Banmaleng, Banbaru, dan Desa Lombang. Rute pertama menuju pelabuhan Banbaru dan rute kedua dari Pelabuhan Cangkareman menuju Pelabuhan Cangcang, Desa Lombang.
Jarak tempuh dua rute itu ditempuh dalam waktu normal sekitar 60 menit menggunakan kapal motor. Ongkos transportasi sekitar Rp 11 ribu per orang.
Kemudian untuk sampai di gundukan pasir, warga harus menyeberangi laut lagi melalui pelabuhan Desa Banmaleng dengan menggunakan perahu kecil. Dalam waktu normal perjalanan dari Desa Banmaleng menuju gundukan pasir membutuhkan waktu sekitar 40 menit.
Secara geografis, gundukan pasir itu masuk wilayah desa Banmaleng. Karena lokasinya berdekatan dengan Gilimanok. Gilimanok adalah pulau kecil yang hanya dihuni satu RT, dengan jumlah populasi penduduk sekitar 300 orang.
Gundukan pasir itu kondisinya sangat gersang. Karena tidak satupun pepohonan yang tumbuh. Jika berkunjung, warga hanya bisa melihat burung yang silih berganti singgah di gundukan berwarna putih itu.
Meski begitu, kondisi alamnya terlihat indah, selain pasirnya yang berwarna putih, air lautnya sangat bersih dan jernih. Warga bisa melihat dengan jelas trumbu karang dari atas perahu. Laut disana sangat dalam, karena masuk wilayah selat jawa.
Dibalik keindahannya, terdapat sejarah kelabu bagi sebagian warga Pulau Gili Raja. Konon banyak warga yang meninggal karena letusan benda yang diduga bom peninggalan belanda.
Untuk mendalami informasi itu kami menemui salah satu keluarga yang menjadi korban kala itu, sebut saja Wasil (bukan nama sebenarnya).
Bagi Wasil peristiwa ledakan benda itu tidak bisa hilang dibenaknya. Sebab, ayah Wasil ikut jadi korban ledakan yang terjadi sekitar tahun 1985 itu. “Saat itu (peristiwa terjadi) saya masih sekolah MI (setara sekolah dasar),” katanya.
Sejarahnya, kata Wasil, gundukan pasir itu diduga menjadi tempat sandarnya kapal milik belanda. Hal itu dibuktikan adanya bangkai kapal yang ada di dekat gundukan pasir.
Namun, saat ini bangkai kapal itu sudah tidak ada. Karena puluhan tahun silam kapal itu diambil oleh warga. Warga mengambil benda itu dengan cara digergaji.
“Diambil untuk dijual. Karena bahannya sebagian terbuat dari kuningan. Harganya mahal. Hitung-hitung untuk menyambung hidup,” jelasnya.
Setelah badan kapal tidak ada, warga menemukan benda seperti meriam. Lokasinya berada disebelah timur laut diatas gundukan pasir.
Awalnya warga beranggapan jika benda tersebut bagian dari bangkai kapal. Warga berbondong-bondong untuk mengambilnya karena dianggap mempunyai nilai tawar tinggi jika dijual.
Warga mengambil barang itu dengan cara digergaji layaknya mengambil bangkai kapal sebelumnya. Namun, sebelum putus benda itu mengeluarkan udara. Melihat peristiwa itu, sekumpulan warga lari ketakutan.
Selang beberapa detik kemudian, benda itu meledak. Sehingga 11 orang dan tiga perahu hancur terkena serpihan benda yang diduga peninggalan belanda. “Pokoknya semuanya hancur. Tidak ada yang selamat, termasuk perahunya juga hancur,” kisahnya.
Hal itu senada dengan yang dikatakan oleh Sigit, tokoh masyarakat Desa Banbaru. “Famili saya juga ada yang menjadi korban,” katanya.
Setelah peristiwa itu terjadi, jarang warga berkunjung pergi ke gundukan tersebut. Karena dianggap lokasi yang berbahaya.
Anehnya, kata Sigit, sejak beberapa tahun lalu gundukan itu hanya tumpukan karang laut. Namun sejak beberapa tahun lalu tiba-tiba dipenuhi pasir berwarna putih. “Itu fenomena alam. Sekarang sudah banyak pasirnya. Sehingga warga terkadang mengunjungi lokasi itu,” tegasnya. (JUNAIDI/ROS/VEM)