JEMBER, koranmadura.com – Oryza Ardiansyah, wartawan media online beritajatim.com menjadi korban penganiayaan saat meliput pertandingan sepakbola antara Persid Jember Vs Sindo Dharaka.
Dikutip koranmadura.com dari tribunnews.com, Kamis, 5 Juli 2018, laga antara dua tim Liga 3 itu berlangsung di Jember Sport Garden (JSG) yang berakhir dengan skor imbang 1-1.
Kronologinya, penganiayaan terhadap Oryza terjadi ketika pemain Sindo Dharaka kecewa kepada wasit yang memberikan hadiah penalti kepada Persid di injury time.
Tendangan penalti itu pun berbuah gol. Hal tersebut semakin memancing kemarahan pemain Sindo Dharaka. Kesal dan emosi, pemain berlari mengejar wasit.
Melihat peristiwa tersebut, Oryza yang sedang berada di stadion untuk liputan, langsung mengabadikan peristiwa tersebut dengan menggunakan kamera ponselnya.
“Saat itu pertandingan sudah berakhir, beberapa pemain dari Sindo Dharaka terlihat mengejar wasit dan melakukan pemukulan, tentu sebagai jurnalis saya mengabadikan peristiwa ini,” kata Oryza saat menjalani perawatan.
Nahas, tiba-tiba handphone Oryza dirampas petugas keamanan. Namun setelah mengetahui jika Oryza merupakan seorang jurnalis, handphonenya pun dikembalikan.
“Namun tiba-tiba dari arah samping saya ada petugas keamanan berpakaian doreng merampas handphone saya. setelah melihat ID card wartawan, hp saya dikembalikan. Namun setelah itu ada beberapa pemain dari Sindo Dharaka yang menghampiri saya dan melakukan penganiayaan,” jelasnya.
Oryza mengaku, tidak ingat siapa saja yang memukulinya karena pada saat itu dia melindungi kepalanya. Penganiayaan dan pengeroyokan tersebut membuat Oryza mengalami luka memar di beberapa bagian. Di antaranya kaki, bagian rusuk dan kepala.
Beberapa temannya yang melihat kejadian ini langsung membawanya ke Puskesmas Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates untuk mendapatkan perawatan. “Yang masih terasa ngilu dan nyeri di bagian rusuk, saya tidak ingat berapa pemain yang menganiaya saya, karena saya melindungi muka saat dipukuli, beruntung ada yang menyelamatkan saya, orangnya mengenakan kaos bertuliskan PSSI dengan badan kekar,” paparnya.
Usai kejadian itu, beberapa jurnalis dan pengurus PWI langsung menjenguk korban. Setelah itu, mereka ke Mapolres Jember untuk melaporkan kejadian tersebut.
“Kami pengurus PWI mengutuk aksi kekerasan yang menimpa Jurnalis di Jember, saat ini kami akan mendampingi korban untuk melaporkan kejadian ini ke Mapolres, dan kami minta agar polisi serius menangani kasus kekerasan terhadap jurnalis,” ujar Moh. Salim, Sekretaris PWI Jember. (TRIBUNNEWS.com/ROS/DIK)