Oleh: MH. Said Abdullah*
Pasca Pilkada serentak tahun 2018 merebak dua pendapat terkait eksistensi PDI Perjuangan. Pertama, yang memberikan penilaian pesimis mencermati hasil Pilkada Provinsi dimana PDI Perjuangan hanya memenangkan 6 Kepala Daerah Provinsi. Dari data sederhana itu muncul segelintir asumsi bahwa kemenangan PDI Perjuangan yang hanya 6 Pilgub akan berdampak merosotnya dukungan kepada Presiden Jokowi, yang merupakan kader PDI Perjuangan.
Secara kuantitatif memang benar PDI Perjuangan hanya memenangkan 6 Pilgub. Namun secara kualitatif jika dikaitkan pemilihan Presiden mendatang justru Pilkada Pilgub makin menegaskan potensi keterpilihan Jokowi pada Pilpres mendatang serta makin eksisnya PDI Perjuangan di berbagai daerah. Di Jawa misalnya, seluruhnya memperlihatkan tidak hanya potensi kemungkinan kemenangan Jokowi namun juga mempertegas eksistensi PDI perjuangan.
Pemikiran kedua, yang memberikan apresiasi tinggi pasca Pilkada terutama mencermati pemilihan di tingkat II. Dari 154 Pilkada tingkat kabupaten/kota PDI Perjuangan mengikuti 152 daerah dan memenangkan 91 daerah (sekitar 60 persen). Inipun bersifat kuantitatif dengan tidak menyertakan kemenangan kepala daerah yang telah berkometmen memberikan dukungan kepada Presiden Jokowi.
Dari data-data sederhana ini terlihat jelas –sebagaimana dipaparkan analis yang sangat cermat- dominasi PDI Perjuangan bersama koalisinya sangat terasa. Dengan demikian, kemenangan Presiden Jokowi pada pelaksanaan Pilpres mendatang sangat prospektif. Peluang dua periode memimpin negeri ini sangat terbuka lebar.
Bagaimana jika mencermati dinamika internal PDI Perjuangan terkait pelaksanaan Pilkada tahun 2018? Barangkali penting dipaparkan apa sebenarnya yang menjadi kometmen PDI Perjuangan dalam setiap pemilihan pemimpin baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional. Bahwa secara mendasar PDI Perjuangan konsisten menampilkan kader internal PDI Perjuangan. Hanya jika ada hal-hal luar biasa saja PDI Perjuangan mendukung dan mencalonkan kader dari luar partai.
Komitmen dan konsistensi PDI Perjuangan ini memiliki pijakan mendasar sejalan kerangka konsepsi ilmiah eksistensi partai politik. Bahwa partai politik sejatinya merupakan dapur kaderisasi pemimpin negeri ini. Karena itu penting partai politik berperan dalam proses kaderisasi kepemimpinan negeri ini antara lain melalui dukungan kepada kader partai untuk tampil di tengah masyarakat. Melalui dukungan kepada kader internal untuk tampil dalam proses pemilihan pemimpin di negeri ini, PDI Perjuangan telah melaksanakan amanah keberadaan dan tujuan utama partai politik.
Memang, konsistensi sikap ini berisiko terutama ketika para kader kurang berhasil dalam perjuangan pemilihan pemimpin daerah. Namun demikian, bagaimanapun jauh lebih penting mendorong proses kaderisasi kepemimpinan negeri ini dibandingkan sekedar memenangkan Pilkada. Kemenangan Pilkada memang harus diperjuangkan tentu –terutama berlandasan idealisme untuk terus mendorong kaderisasi kepemimpinan negeri ini.
PDI Perjuangan meyakini bahwa memprioritaskan kepentingan kaderisasi negeri ini melalui memberikan kesempatan kepada kader internal partai dengan hasil apapun selalu memberikan manfaat besar baik bagi kepentingan renegerasi kepemimpinan Indonesia maupun internal partai. Hal lain melalui tampilnya kader internal dalam Pilkada, sebuah proses konsolidasi partai secara tak langsung dapat dilaksanakan dengan baik. Jadi, menang maupun kalah tampilnya kader partai dalam proses Pilkada selalu memberikan manfaat bagi negeri ini dan kepentingan PDI Perjuangan, di masa kini dan mendatang.
*Wakil Ketua Banggar DPR RI