SUMENEP, koranmadura.com – Jumlah jemaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dengan catatan khusus pada 2018 mencapai hampir 50 persen dari total JCH. Mereka dikategorikan jemaah berisiko tinggi (risti), baik karena lanjut usia atau riwayat penyakit lainnya.
“Kalau jemaah yang berisiko tinggi, terutama karena faktor usia, lumayan banyak. Hampir 50 persen,” ungkap Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Rifa’i Hasyim.
Selain faktor usia, menurutnya ada juga jemaah yang masuk kategori berisiko tinggi karena memiliki riwayat penyakit. “Rata-rata penyakitnya darah tinggi dan kencing manis,” tambahnya.
Rifa’i mengaku sudah sejak awal pihaknya meminta kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat agar tidak sampai ada jemaah yang berangkat ke Tanah Suci tanpa divaksin miningitis.
“Alhamdulillah beberapa waktu lalu, pada saat ada manasik massal dari Dinas Kesehatan sudah kami datangkan, dan jemaah yang belum mendapat vaksin miningintis sudah divaksi waktu itu,” pungkasnya.
Untuk diketahui, jumlah JCH asal kabupaten paling timur Pulau Madura yang akan berangkat tahun ini ialah 666 orang. Mereka tergabung dalam dua kloter, yakni 10 dan 11. Kloter 10 sebanyak 221 orang, sedangkan kloter 11 berjumlah 445 orang.
Di samping itu, selain JCH reguler, dalam perkembangannya ada sebanyak 16 orang cadangan yang dipanggil berangkat tahun ini. Namun dalam pemberangkatannya, mereka bergabung dengan kloter lain yang ditangani langsung Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Timur. (FATHOL ALIF/ROS/VEM)