SUMENEP, koranmadura.com – Sedikitnya empat orang mahasiswa Universitas Arya Wiraraja (Unija) Sumenep, Madura, Jawa Timur, melakukan aksi unjuk rasa di area kampus, Jumat, 6 Juni 2018. Aksi mereka dalam rangka mengkritisi biaya pendidikan di lembaga tersebut yang dinilai mahal.
Pantauan di lokasi, aksi mahasiswa tersebut berlangsung di sebelah utara Kantor Rektorat. Selain menyampaikan aspirasi dengan berorasi, mahasiswa juga melakukan teatrikal. Dalam aksinya, dua orang mahasiswa tampak “gantung diri” akibat mahalnya biaya pendidikan di kampus yang identik dengan cemara itu.
Salah seorang mahasiswa yang melakukan aksi, Abdul mengaku, menyesalkan kebijakan pihak kampus yang memungut biaya pendidikan terlalu mahal, yaitu untuk uang semester saja mencapai Rp 2 juta.
“Hari ini kami menilai, kami katakan dengan tegas bahwa Unija bukan lagi lembaga pendidikan, tapi perusahaan! Saya tidak tahu, apakah kebijakan (biaya pendidikan mahal) itu dari pimpinan, rektor atau yayasan,” tegasnya.
Ironisnya, menurut dia, pembangunan di Unija belakangan tidak terlalu pesat. Dalam satu tahun paling hanya ada satu pembangunan yang selesai. “Bahkan hari ini UKM-UKM terlantar. Tidak punya fasilitas yang memadai. Mau berkreasi seperti apa mahasiswa Unija kalau tidak punya fasilitas memadai,” pungkasnya.
Menanggapi aksi tersebut, Pejabat sementara (Pjs) Rektor Unija, Sjaifurrachman mengatakan, bahwa aspirasi yang disampaikan segeleintir mahasiswa itu tidak mewakili semua mahasiswa Unija yang jumlahnya mencapai 4 ribu lebih. “Saya percaya, mahasiswa yang lain masih mengikuti apa yang menjadi kebijakan kampus,” ujar dia.
Mengenai mahalnya biaya pendidikan yang dipermasalahkan mahasiswa, menurut Sjaifur pihaknya telah menyampaikan secara transparan kepada semua pihak terkait peruntukannya.
“Dan perlu diketahui, kebiajakan biaya pendidikan ini sudah sejak tiga tahun lalu. Pada tahun pertama dan kedua tidak ada masalah. Baru kali ini,” katanya menjelaskan kepada sejumlah awak media. (FATHOL ALIF/ROS/VEM)