SUMENEP, koranmadura.com – Hampir empat bulan peristiwa penembakan yang menimpa seorang korban, Ibnu Hajar, warga Dusun Beringinan, Desa Gapurana, Kecamatan Talango,Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Bahkan Polres Sumenep terkesan menyalahkan warga, karena warga saat dimintai keterangan selalu berdalih tidak tahu.
“Yang menjadi kendala adalah saksi. Kalau ditanya selalu mengatakan tak oning (tidak tahu),” kata Kapolres Sumenep, AKBP Fadillah Zulkarnaen, Rabu, 18 Juli 2018.
Hingga saat ini, penyidik telah memeriksa beberapa saksi, mulai dari keluarga korban maupun warga setempat. Namun dari hasil pemeriksaan itu, penyidik belum menemukan petunjuk untuk mengungkap pelaku.
Meski begitu, kata Fadillah, penyidik terus memproses perkara itu dan pihaknya meminta masyarakat untuk membantu penyidik dengan cara memberikan informasi. Melalui hal itu, persoalan tersebut bisa segera menemukan titik terang. “Jangan salahkan polisi,” jelasnya.
Sekadar diketahui, Ibnu Hajar ditembak orang tak dikenal, Jum’at, 20 April 2018, sekitar pukul 18.45 WIB, pada saat dirinya mengirim beras ke panti asuhan, Dusun Beringinan, Desa Gapurana, Kecamatan Talango, Sumenep.
Korban ditembak saat mengendarai motor Honda Beat bernopol B 4906 TCJ warna putih, dengan membawa karung berisi beras. Saat keluar rumah sekitar 10 meter, korban ditunggu oleh seseorang. Lantas korban ditembak dari jarak dekat dan menyebabkan Ibnu Hajar meninggal dunia.
Sementara dari pihak kepolisian merasa kesulitan mencari pelaku penembakan. Padahal, sejak peristiwa itu baru terjadi, polisi sudah mengantongi ciri-ciri umum pelaku. Saat ini, korps baju cokelat itu berdalih menunggu hasil forensik proyektil dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polda Jawa Timur.
Proyektil yang dikirimkan ke Puslabfor Polda Jatim jenis kaliber 3,8. Jenis tersebut sama dengan proyektil yang biasa dipakai oleh petugas Kepolisian. Proyektil itu menjadi barang bukti polisi guna mengungkap pelaku dan motif kasus tersebut. (JUNAIDI/DIK)