BLITAR, koranmadura.com – Di media sosial dan aplikasi percakapan viral sebuah foto seorang anak yang terikat tangan dan kakinya dalam keadaan berdarah dan babak belur dihajar massa. Foto yang kurang nyaman itu mempunyai caption pertanyaan tentang siapa anak tersebut.
“Mbok menowo enek sing due tonggo opo sing kenal bocah iki..njaluk tulung dikonfirmasi keluargane (mungkin ada yang punya tetangga atau kenal anak ini, minta konfirmasi keluarganya),” tulis caption tersebut.
Dalam foto itu terlihat bocah lelaki tersebut menggunakan kaos coklat, hanya memakai celana dalam. Tangannya terikat borgol, kakinya terikat kain bermotif kotak-kotak. Wajah anak itu penuh darah.
Dari penelusuran media ini, peristiwa itu terjadi pada Selasa, 10 Juli lalu sekitar pukul 23.00 WIB. Lokasi kejadian tepatnya di rumah Brigadir CD, Anggota Sat Sabhara Polres Blitar di Dusun/Desa Pojok, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.
Seorang saksi mata, Heri menyatakan, dia yang pertama mengupload photo itu melalui grup WhatsApp SMPN 4 Kota Blitar. Heri bermaksud mencari keluarga si bocah. Seperti yang jamak dilakukan warga Blitar jika menjumpai orang tak dikenal, lalu membagikan informasi itu ke grup yang dia punya.
“Saya hanya bermaksud biar bocah itu cepat ketemu keluarganya. Soalnya setelah saya perhatikan dari pandangan matanya, sepertinya bocah itu mengalami keterbelakangan mental. Kasihan kalau gak cepet ketemu keluarganya, kondisi lukanya parah,” ucap Heri ditemui dirumahnya, Sabtu, 14 Juli 2018.
Rumah Heri berada sekitar 30 m arah utara tempat kejadian. Malam saat kejadian, Heri beserta lima pemuda desa sedang menggelar nobar piala dunia. Tiba-tiba seorang anak memberitahu, kalau ada maling di sebelahnya.
“Saya kesana sudah banyak orang ternyata. Bocah itu kondisinya sudah babak belur dan berdarah di tengah jalan tepat di depan rumah Pak CD. Karena posisinya di tengah jalan, lalu saya berinisiatif memasukkannya ke halaman rumah Pak CD,” tutur Heri.
Heri lalu minta tolong beberapa teman, memberitahu RT dan RW. Dia juga melihat Pak CD menghubungi Polsek Garum dua kali, namun tidak diangkat. “Pak CD juga menelepon salah satu temannya, tanya sedang tugas apa tidak. Tapi temannya menjawab tidak. Akhirnya saya sendiri yang berangkat ke Polsek Garum untuk melaporkan aksi massa ini,” bebernya.
Selama Heri ke Polsek, saksi lain Riko (19) melihat bocah itu kembali menjadi sasaran amuk warga. Riko melihat sekitar 15 sepeda motor pengendara diparkir di tepi jalan desa itu. “Tiap orang lewat, markir motor ikut mukul. Banyak yang ikut mukuli. Gak hanya orang sekitar sini saja,” ucapnya.
Beruntung petugas Polsek Garum cepat menuju lokasi kejadian. Bocah itu lalu dievakuasi ke polsek. Saat mukanya dibersihkan di polsek itulah, Heri baru menyadari jika sang bocah kondisinya tidak normal.
Heri lalu memberitahukan hal ini pada petugas, dan dia juga menyebarkan informasi itu untuk segera menemukan keluarganya.
Sekitar pukul 01.00 datanglah keluarga bocah menjemputnya. Ternyata benar dugaan Heri. Bocah itu mempunyai keterbelakangan mental. Keluarganya lalu membawanya pulang dan Heripun merasa lega. Karena sang bocah telah bertemu keluarganya. (DETIK.com/ROS/DIK)