KUALA LUMPUR, koranmadura.com – Pemerintahan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad memerintahkan penutupan pusat antiterorisme yang didanai oleh Arab Saudi. Perintah ini dikeluarkan kurang dari 13 bulan setelah pusat antiterorisme itu resmi dibuka di Kuala Lumpur.
Seperti dilansir Al-Jazeera, Rabu, 8 Agustus 2018, Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu mengatakan pada para anggota parlemen Malaysia, bahwa pusat antiterorisme yang diberi nama King Salman Center for International Peace (KSCIP) akan menghentikan operasinya segera, dan fungsinya akan diserap oleh Institut Pertahanan dan Keamanan Malaysia. Namun menteri Malaysia itu tidak menyebutkan alasan penutupan tersebut.
Tahun lalu, dalam kunjungan ke Malaysia, Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud meresmikan pusat antiterorisme yang memiliki kantor temporer di Kuala Lumpur, sembari menunggu pembangunan gedung permanen di Putrajaya, ibu kota administratif Malaysia.
Sebelumnya, mantan Menteri Malaysia, Hishammuddin Hussein mengatakan, bahwa pusat antiterorisme tersebut krusial untuk menghentikan penyebaran ekstremisme keras oleh kelompok-kelompok bersenjata, termasuk kelompok radikal ISIS.
Di depan anggota parlemen, Sabu juga menyampaikan rencananya untuk menarik pulang pasukan Malaysia dari Saudi. Sebelumnya pada Juni lalu, Sabu mengumumkan peninjauan keberadaan militer Malaysia di Saudi. Dikatakannya, keberadaan pasukan militer itu “secara tidak langsung menjebak Malaysia dalam konflik Timur Tengah.”
Pada tahun 2015 lalu, mantan PM Malaysia Najib Razak mengirimkan pasukan militer Malaysia ke Saudi untuk memfasilitasi evakuasi warga Malaysia di Yaman, yang tengah dilanda konflik berkepanjangan. Sabu mengatakan, tentara-tentara Malaysia tak pernah terlibat dalam serangan apapun di Yaman. Seperti diketahui, koalisi militer yang dipimpin oleh Saudi melancarkan perang melawan pemberontak Houthi di Yaman sejak Maret 2015 lalu. (DETIK.com/ROS/DIK)