JAKARTA, koranmadura.com – Turki tengah mengalami krisis mata uang. Lira yang menjadi mata uang resmi negara tersebut telah melemah lebih dari 40 persen sejak awal tahun 2018.
Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dzulfian Syafrian apa yang menimpa Turki bisa juga menimpa Indonesia. Sebab, dia menilai Indonesia dan Turki dalam kondisi yang hampir sama.
“Indonesia dan Turki sama-sama mengalami defisit ganda (twin deficits), yaitu defisit fiskal dan defisit neraca berjalan,” sebutnya dalam keterangan tertulis yang dilansir detikcom, Rabu, 15 Agustus 2018.
Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri baru saja mengeluarkan data neraca perdagangan Indonesia di bulan Juli. Hasilnya kembali mengalami defisit, kali ini nilainya US$ 2,03 miliar atau setara Rp 29,6 triliun.
Defisit terjadi karena impor Indonesia bulan Juli 2018 tercatat US$ 18,27 miliar atau Rp 267,2 triliun, sedangkan ekspor bulan Juli 2018 tercatat US$ 16,24 miliar atau Rp 237,5 triliun.
Tahun ini, pemerintah juga memperkirakan defisit anggaran pada APBN tahun 2018 mencapai Rp 325,9 triliun atau 2,19 persen dari produk domestik bruto (PDB). Besaran ini lebih rendah dibandingkan outlook APBN Perubahan tahun 2017 sebesar 2,67 persen terhadap PDB. “Defisit ganda ini lah yang menjadi alasan struktural dan fundamental mengapa rupiah terus melemah,” terangnya.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS memang masih terus terjadi. Beberapa hari yang lalu bahkan dolar AS sudah menyentuh level Rp 14.600.
Menurut Dzulfian, defisit neraca berjalan yang terjadi disebabkan utamanya karena arus modal keluar (capital outflow) dari Indonesia ke AS. Hal itu juga disebabkan naiknya tingkat suku bunga AS (Fed Fund Rate).
Pelarian modal ini, tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga negara-negara emerging market lainnya, termasuk Turki. “Bahkan, Turki mengalami pelarian modal yang paling parah, tercermin dari defisit neraca berjalan yang mencapai 5 persen dari PDB. Itu lah mengapa mata uang Turki, yaitu Lira, mengalami pelemahan paling parah terhadap dollar AS pada 2018 ini,” terangnya. (DETIK.com/ROS/DIK)