SUMENEP, koranmadura.com – Musim kemarau yang masih terus berjalan hingga sekarang tak hanya menyebabkan masyarakat di sejumlah daerah kekurangan air bersih. Sejumlah petani di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, juga mengeluh karena kekurangan air untuk merawat tanamannya.
Hal tersebut diperparah oleh belum adanya terobosan yang diambil oleh pemerintah setempat. Misalnya dengan melakukan pengeboran atau pembuatan embung air. “Itu yang dikeluhkan petani,” kata Ketua Paguyuban Pemerhati Kelompok Tani (P2KT) Sumenep, Zaenuri.
Senada ,Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumenep, Moh Ramzi mengatakan, sekarang petani tembakau di kabupaten paling timur Pulau Madura banyak yang kekurangan air. Bahkan sebagian petani di Kecamatan Guluk-Guluk, terpaksa harus membeli air untuk dipakai menyiram tembakau. Harganya mencapai Rp 100 ribu per 1 ribu pohon.
Tak hanya di Kecamatan Guluk-Guluk petani di Kecamatan Pasongsongan juga harus merogoh koceh sekitar Rp 80 ribu per jam agar bisa menyiram tembakau. Itupun tidak maksimal. Sebab sumber air yang dikelola pihak swasta sangat terbatas. “Kami harap pemerintah tidak berpangku tangan dalam persoalan ini,” tegas Ramzi.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) Sumenep, Bambang Heriyanto mengatakan pembangunan embung air dan rumah pompa (sumur bor) sebetulnya sudah pernah dicanangkan. Hanya saja tahun ini tidak dianggarkan kembali. “Tahun ini sementara tidak ada,” katanya, saat dikonfirmasi.
Namun menurutnya, meski tahun ini tidak ada anggaran untuk pembangunan embung air dan rumah pompa, bukan berarti keberpihakan pemerintah kepada petani tidak ada. Terbukti, sejauh ini sudah banyak program peningkatan petani yang direalisasikan, meski tidak semua kelompok tani menerima secara bersamaan. “Kami harap petani membuat embung air sendiri dengan skala yang sangat kecil,” pungkasnya. (JUNAIDI/FAT/DIK)