SAMPANG, koranmadura.com – Warung kopi milik H Tolib (45) yang berada di jalan Raya Desa Taddan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur disegel oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) setempat, Kamis, 27 September 2018. Penyegelan dilakukan sekitar pukul 05.20 WIB.
Kabid Penegakan Perda dan Ketertiban Umum, Satpol PP Dampang, Choirijah mengatakan, peyegelan sekaligus penutupan terhadap warung kopi tersebut berdasarkan laporan masyarakat dan Ulama di Sampang.
“Penyegelan ini karena ada laporan dan pengaduan warga maupun ulama terkait ada aktivitas warung remang-remang yang mengarah pada prostitusi,” tuturnya.
Bahkan dirinya mengaku pernah mendatangi dan melihat ada perempuan di warung tersebut, namun belum tampak ada aktivitas yang mengarah pada perbuatan asusila.
“Kalau ingin tahu perbuatan itu, kan harus ketangkap tangan. Kami juga belum melakukan penyelidikan, hanya saja laporan dan kegerahan masyarakat dan ulama sudah seringkali kami terima sejak tiga bulan terakhir,” jelasnya.
Sejauh ini pihaknya hanya melakukan penyegelan. Sedangkan barang-barangnya diangkut dan dikembalikan ke pemiliknya. Kemudian pemiliknya tidak diamankan karena belum cukup bukti ada transaksi prostitusi.
“Ada kursi, rice cooker, lemari dan barang rumah tangga. Kami koordinasi dengan tokoh masyarakat, Camat, Kapolsek dan Kodim. Kami libatkan mereka. Sedangkan warung akan dibuka kembali setelah ada permintaan dari pihak Camat. Dan kami beri tenggang waktu selama 3 hari ke depan. Untuk tanah yang dipakai yaitu milik kas desa dan tidak ada retribusi ke kasdes,” pungkasnya.
Sementara H Tolib mengaku keberatan atas tindakan yang dilakukan Satpol PP. Ia hanya menjual kopi, tudingan menyediakan prostitusi menurutnya tidak benar
“Tapi saya akui kadangkala ada perempuan yang mampir ke warungnya. Dan wanita itu katanya berasal dari Jember, tapi mau diapain. Saya pribadi tidak mengundangnya,” akunya.
Dirinya juga mengatakan, bahwa perempuan yang mampir ke warunganya hanya singgah selama 3 jam lamanya. “Disini hanya 3 jam. Setelah itu menghilang tidak tahu kemana. Datang ke warung itu tidak tentu,” katanya. (Muhlis/SOE/VEM)