SUMENEP, koranmadura.com – Sejak beberapa waktu lalu, Lombok terus diguncang gempa bumi. Berdasarkan laporan BMKG, gempa dengan berkekuatan 5,1 skala ritcher (SR) terjadi pada Jumat, 31 Agustus 2018 sekitar pukul 10.37 WITA.
Kondisi tersebut membuat warga yang tinggal di Lombok selalu dihantui rasa ketakutan. Tak terkecuali bagi warga Sumenep yang merantau ke daerah Lombok.
Informasinya, banyak warga Kecamatan/Pulau Sapeken, Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang mulai pulang ke kampung halaman masing-masing.
Mereka pulang dengan menggunakan jalur laut dengan kondisi kurang baik. Sebab, mereka pulang dengan kondisi sakit, ada yang mengalami patah tulang dan juga ada yang meninggal dunia di Lombok.
Kondisi tersebut dibenarkan oleh salah seorang Tokoh Masyarakat Kepulauan, Badrul Aini. Menurutnya, mayoritas masyarakat yang balik kampung itu merupakan warga Desa Pagerungan Kecil dan warga Pagerungan Besar.
“Ada sekitar 300 orang yang sampai di Pagerungan, mereka pulang dengan menggunakan kapal, sebagian warga ada yang pulang dengan kondisi sakit bahkan ada yang patah tulang,” katanya saat dihubungi media ini.
Pria yang saat ini menjabat sebagai wakil rakyat di Gedung Parlemen ini berharap, ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sumenep. “Bantuan dari Pemerintah sangat ditunggu, secara materi dia sudah tidak punya apa-apa,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep Rahman Riadi mengatakan, semua bantuan untuk bencana alam dari Pemerintah Sunenep dipusatkan di Lombok.
Sehingga tidak bisa digunakan untuk korban bencana gempa bumi itu yang berada di luar Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). “Semua bantuan dipusatkan ke Lombok dan sudah dikirim. Masak mau ditarik lagi,” katanya.
Menurutnya, bantuan yang disediakan untuk bencana alam Lombok mencapai ratusan juta rupiah. “Yang kami anggarkan untuk bencana Lombok sebesar Rp 500 juta. Itu dianggarkan di PAK,” tegasnya. (JUNAIDI/ROS/DIK)