SUMENEP, koranmadura.com – Pasca habisnya anggaran penanggulangan bencana kekeringan di sejumlah wilayah di Sumenep, Madura, Jawa Timur pada Agustus lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dalam beberapa hari terakhir belum bisa menyuplai air bersih lagi.
BPBD Sumenep sudah mengajukan permohonan kepada Bupati setempat agar bisa menggunakan anggaran tak terduga untuk dapat kembali melakukan pengiriman air bersih. Namun permohonan itu masih dalam proses.
“Kami sudah mengajukan penambahan anggaran kepada Bapak Bupati. Sekarang posisinya masih proses,” kata Kepala BPBD, Abd. Rahman Riadi, Rabu, 5 September 2018.
Mantan Sekretaris Bappeda Sumenep itu menuturkan, berdasarkan rilis BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), masa status darurat kekeringan di kabupaten paling timur Pulau Madura masih sampai September ini.
Namun demikian, sambungnya, selama permintaan air bersih dari masyarakat kepada pihaknya masih ada, maka BPBD akan terus berupaya memenuhinya. Dengan catatan, ada penambahan anggaran untuk itu.
Rahman menyampaikan, sampai saat ini permintaan suplai air bersih dari masyarakat masih ada. Di antaranya dari Desa Montorna dan Prancak di Kecamatan Pasongsongan.
Seperti diketahui, sesuai data BPBD pada musim kemarau tahun ini di Sumenep terdapat 27 desa di 10 kecamatan masuk peta kekeringan. Dengan perincian 10 desa kategori kering kritis, 17 lainnya kering langka. (FATHOL ALIF/DIK)