SAMPANG, koranmadura.com – Ambruknya sebagian titik Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) atau pemancangan beton sungai kali kamoning, Sampang, yang berada di jalan Teratai juga menarik perhatian Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat. Sebab di hari yang sama, wakil rakyat ini juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pekerjaan, Kamis, 20 September 2018.
Baca: Pancang Beton Sungai Kamoning Roboh, Pj Bupati: Karena Ada Titik Sumber Air
Proyek multi years dengan nilai kontrak paket II senilai Rp 149 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tersebut diketahui ambruk pada Selasa, 18 September 2018, kemarin malam.
Ketua Komisi III DPRD Sampang, Moh Nasir menyampaikan, berdasarkan pantauan di lokasi, ambruknya CCSP tersebut diduga karena penancapannya kurang mencapai titik terdalam yang sangat berpotensi terjadi pergeseran tanah dan ambruk karena kondisi tekstur tanahnya yang sangat lembek.
“Meski saat ini alasan ambruknya CCSP itu dikarenakan terdapat adanya sumber air, itu akan menjadi catatan bagi komisi, bagaimanapun kami akan tetap mengawal pekerjaan megaproyek itu,” ujarnya.
Ditambahkan, Wakil Ketua Komisi III, Anwar Sanusi mengatakan, jika berdasarkan penjelasan pelaksana teknis di lapangan, hasi tes sondir atau tes kepadatan tanah diketahui hingga kedalaman 20 meter, tekstur tanah di sepanjang area pemasangan SSCP masih kondisi lembek.
“Setelah kami lihat, SSCP kan tidak patah, itu karena kedalaman pemancangan SSCP masih berada di tanah yang lembek sehingga kondisinya terlihat mau ambruk. Akan tetapi pihak pelaksana mengklaim itu sudah sesuai RAB. Jadi jika pemancangan semua SSCP berada di kedalaman 10 meter, maka tidak menutup kemungkinan semuanya akan terjadi hal yang sama manakala proses pengerukannya dikerjakan tidak profesional. Semestinya pemancangan SSCP ditancapkan lebih dalam lagi,” prediksinya.
Dengan peristiwa dan rentetan penjelasan yang diterimanya, Anwar menyimpulkan bahwa konsultan perencana kegiatan tersebut kurang profesional karena merencanakan kegiatannya kurang matang, semestinya pemancangan SSCP harus ditancapkan lebih dalam dan menyesuaikan pada hasil tes sondir.
“Tapi kami berharap kepada rekanan agar pengerjaan proyek itu tidak dibuat mainan, karena proyek tersebut sangat didambakan oleh masyarakat Sampang khususnya warga terdampak banjir yang berada di perkotaan,” ucapnya
Sementara progres pengerjaan mega proyek penanggulangan banjir Sungai Kali Kamoning hingga saat ini masih mencapai 35 persen. Sedangkan anggaran yang sudah dicairkan yaitu sebesar 20 persen dari total nilai kontrak atau diperkirakan senilai Rp 30 miliar.
“Kegiatan ini dikerjakan oleh PT Rudi Jaya yang KSO dengan Jati Wangi. Sehingga pengerjaan penancapan SSCP yang sudah terlanjur dipasang, agar nantinya saat pengerukan sungai untuk tidak didekatkan pada SSCP, melainkan harus diberi jarak tertentu untuk menghindari peristiwa serupa,” paparnya. (MUHLIS/ROS/VEM)