SUMENEP, koranmadura.com – Tenaga Honorer K2 melakukan aksi demonstrasi di Depan Kantor DPRD Sumenep, Madura, Jawa Timur, Kamis, 20 September 2018.
Aksi yang berlangsung sekitar 30 menit itu nyaris ricuh. Kericuhan itu dipicu karena tidak satupun wakil rakyat di Gedung Parlemen yang menemui mereka.
Sikap ‘apatis’ anggota dewan itu dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian kepada nasib tenaga honorer. Sehingga mereka beranggapan harus dilawan dengan cara mendobrak pintu kantor DPRD Sumenep.
“Semua tenaga honorer merapat semua. Keluar pak DPR, kalian dipilih oleh rakyat, temui kami,” kata orator saat itu.
Mestinya kata pendemo sebagai wakil rakyat memperhatikan nasib tenaga honorer. Saat ini honor yang diterima setiap bulan sangat tidak sebanding dengan pengabdian yang dijalankan selama ini.
“Honor kami setiap bulan hanya Rp350 ribu. Kami harap wakil rakyat bisa menyampaikan aspirasi kami. Angkat kami jadi PNS, peran kami cukup banyak, karena mencerdaskan nasib bangsa. Kamilah yang mengajari anak-anak kalian. Keluar pak dewan,” teriaknya.
Baca:
- Demo Kantor Bupati Sumenep, Ini Tiga Tuntutan Honorer K2
- Demo Kantor DPRD, Honorer K2 Baca Surat Yasin
- Minta Diangkat PNS, Ratusan Honorer K2 Demo Pemkab Pamekasan
Sebagian pendemo meminta keamanan tidak menghalangi mereka untuk masuk ke dalam kantor DPRD. “Demo di DPR RI kemarin pintunya jebol. Ingat itu,” celetus salah satu pendemo.
Emosi pendemo bisa teratasi setelah Ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma menemui mereka. Salah satu siasat agar emosi pendemo tidak memanas, Herman mengajak mereka bernyanyi dan berpuisi.
“Ini adalah rumah rakyat, sebagai wakil rakyat kami akan terima semua aspirasi kalian,” tegansya.
Setelah itu massa aksi membubarkan diri secara tertib. Perwakilan mereka diminta masuk untuk melakukan garing bersama. Mereka ditemui oleh Anggota Komisi IV. Hingga saat ini sering masih berlangsung.
Jumlah tanya honorer di Sumenep saat ini sekitar 1.200 orang. Mayoritas mereka berprofesi sebagai guru. (JUNAIDI/SOE/DIK)