JAKARTA, koranmadura.com – Kakak selebriti Syahrini, Ridwan Zaelani, baru saja meninggal karena tersengat aliran listrik, Rabu, 26 September 2018 kemarin. Namun, terkena aliran listik ternyata tak selalu membahayakan keselamatan manusia. Kok bisa?
Dikutip dari Medical News Today, tegangan listrik dengan kekuatan rendah yang diberikan dengan teknik tertentu ternyata bisa digunakan untuk mengembalikan kemampuan motorik dan bahasa.
Riset yang dilakukan peneliti Adam Green dari Department of Psychology di Georgetown University in Washington DC menamakan prosedur ini transcranial electrical stimulation (TES).
Prosedur ini menggunakan elektroda kecil yang ditempelkan pada kulit kepala selama beberapa menit. Aliran listrik dari TES yang merangsang aktivitas dan kerja sistem saraf tersebut digunakan untuk rehabilitasi pasien stroke dan depresi.
Selain sebagai metode penyembuhan, TES juga dianggap mampu memaksimalkan kemampuan lain termasuk kreativitas. Namun penggunaan TES dalam hal ini masih tersandung norma, etika, dan legal.
Pimpinan Neuroethics Studies Program di Georgetown University Medical Center James Giordano menjelaskan, hal ini terkait dengan penggunaan TES tanpa pendampingan instruktur. “Ada risiko dan konsekuensi yang harus ditanggung pengguna TES,” katanya.
Saat ini konsumen membeli dan merangkai sendiri berbagai komponen dalam TES untuk kreativitas. Artinya, konsumen bisa cuek, tidak memperhatikan dan semaunya sendiri dalam menyusun atau menggunakan TES. Akibatnya, TES tak bisa memberi manfaat maksimal atau malah akan membahayakan keselamatan pengguna. Konsumen sendiri kemungkinan tak menyadari kesalahannya hingga terkena dampak serius.
Dengan mempertimbangkan risiko ini, Giordano menyarankan, agar melakukan dialog terlebih dulu dengan konsumen. Dialog dengan komunitas Do It Youself (DIY) bertujuan menyebarkan info seputar efek, proses, dan hasil dari penerapan teknologi TES. Dialog juga kembali menekankan pentingnya TES untuk kemajuan dunia klinis, bukan sekadar memicu kreativitas.
Untuk saat ini, Giordano menyarankan, penerapan TES hanya untuk keperluan pengobatan yang didampingi tenaga ahli. Selain rehabilitasi pasien stroke, TES digunakan dalam terapi memori pasien dengan kerusakan saraf (neurodegeneratif). Penerapan lainnya adalah pada pasien yang mengalami masalah ingatkan karena penyakit parkinson, kronis, dan gelisah. (DETIK.com/ROS/DIK)