SUMENEP, koranmadura.com – Annuqayah Guluk-Guluk merupakan Pondok Pesantren terbesar di Madura, Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Sumenep. Hingga saat ini Annuqayah telah berusia 131 tahun sejak berdiri 1887. Memiliki ribu santri dan ratusan ribu alumni yang menyebar di Indonesia. Peranan Annuqayah sebagai pondok pesantren tidak dapat diragukan lagi, Annuqayah telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk karakter kehidupan masyarakat di Sumenep.
Beragam prestasi tingkat lokal, nasional, dan internasional juga sudah kerap kali dipersembahkan oleh santri-santri Annuqayah. Termasuk pada 12 September 2018 lalu, para santri Annuqayah kembali membanggakan Sumenep, karena berjaya dalam ajang Sukarabic Fest 2018 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain borong prestasi, Annuqayah dinobatkan sebagai juara umum.
Namun, peranan Pesantren Annuqayah yang telah tampak di masyarakat tidak diimbangi dengan dukungan pemerintah, khususnya Pemerintah Sumenep dalam hal pengadaan infrastruktur jalan yang layak. Dianggap tidak layak karena akses jalan menuju Annuqayah dan akses jalan di sekitar Annuqayah rusak parah.
Salah seorang alumni menuturkan bahwa, infrastruktur jalan di area Annuqah telah lama rusak parah. “Saat Presiden Jokowi mau berkunjung ke Annuqayah, pada 08 Oktober 2017, jalan di area Annuqayah sempat ditambal-sulam, cuma selepas Jokowi pulang, lepas pula aspalnya”, ungkap Syafiqurrahman saat diwawancarai di lokasi pertemuan alumni pada Minggu, 16 September 2018 kemarin di Aula As-Syarqawi.
Syafiq menambahkan bahwa sempat diperbaiki. Namun sayang seribu sayang, aspalnya tak bertahan lama. “Mungkin karena kualitas aspalnya yang kurang tahan, akhirnya cepat mengelupas. Sebagai alumni, saya berharap pemerintah sesekali berkunjung ke Annuqayah agar bisa melihat sendiri akses jalan yang rusak,” pungkasnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang alumni asal Jember, Fandrik Ahmad. Menurut Fandrik, seharusnya Annuqayah dapat perhatian dari pemerintah, khususnya soal akses jalan layak. “Akses jalan menuju Annuqayah memang dari dulu begitu. Seharusnya sebaga pondok yang besar dan memiliki ribuan santri dan ratusan ribu alumni, akses jalan tidak berlubang dan berdebu,” katanya.
Berdasarkan keterangan salah seorang pengelola lembaga pendidikan di Annuqayah, bahwa rusaknya infrastruktur jalan di Annuqayah sangatlah dirasakan ketidaknyamanannya, berlubang dan berdebu. Setiap harinya, diperkirakan ada 4-5 ribu mahasiswa, santri, dan ustad yang melintasi area Annuqayah. Belum lagi wali santri dan alumni yang hendak berkunjung ke pesantren Annuqayah.
Berdasarkan laporan dari Ketua Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah, KH. M Naqib Hasan saat Reuni Alumni Nasional IV, santri menetap di Annuqayah berjumlah 6.200. Sementara santri kalong berjumlah 3.700. Jumlah total santri Annuqayah adalah 9.900. Selain itu, salah satu pesantren tertua di Madura ini juga sudah memiliki perguran tinggi baru (selain Instika), yaitu Institut Ilmu Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah.
Oleh karena itu, dalam rembuk non formal dari beberapa Alumni, berharap persoalan tersebut bisa segera diselesaikan oleh pemerintah Sumenep. Karena menurut mereka, infrastruktur jalan yang baik dan nyaman akan semakin mendorong kelancaran aktivitas penyelenggaraan pendidikan di Annuqayah. (SOE/DIK)