BOJONEGORO, koranmadura.com – Dugaan kekerasan antar siswa terjadi di lingkungan sekolah di Bojonegoro, Jawa Timur. Kejadian ini membuat orang tua korban melapor ke pihak berwajib. Kasus yang terjadi pada September ini terkuak setelah ibu korban membeberkan peristiwa yang dialami anaknya.
Purwaning Rahayu (47), ibunda pelajar SMU negeri 1 Bojonegoro kelas XII menuturkan, awalnya dia menerima kabar dari pihak sekolah pada 17 september terkait anaknya, AY, sedang dirawat di rumah sakit Aisyiah Bojonegoro karena perut sakit akibat asam lambung naik.
“Saya tiba di rumah sakit melihat kondisi anak saya yang kondisinya asam lambung naik karena ada benturan keras, kebetulan anak saya itu sedang puasa jadi kosong perutnya. Saat di rumah sakit diantar wakil kepala sekolah,” tutur Purwaning, Jumat, 5 Oktober 2018.
Setelah tahu kondisi anaknya yang sakit, dan telah memilih rawat jalan, sang ibu ini mencari tahu penyebab anaknya sakit. Dari keterangan anaknya, Purwaning mengatakan, bahwa AY sebelumnya telah dipukul oleh teman sekolahnya saat upacara bendera. Selain mendengar ucapan dari anak, Purwaning juga menemukan kejanggalan di HP anaknya.
Setelah dilihat, Purwaning menemukan ancaman yang bisa membahayakan nyawa anaknya di salah satu grup WhatsApp yang diikuti anaknya.
“Ada percakapan di grup WA yang bernada ancaman bagi anak saya. sehingga kami malam itu juga menemui pihak sekolah menanyakan ada kejadian apa sebenarnya di sekolah. Namun pihak sekolah malah mengelak dengan kalimat ‘ini hanya kejadian karena unsur tidak sengaja’” ucap Puwaning.
Tidak terima dengan sikap sekolah yang seolah-olah menutupi kejadian ini, akhirnya Purwaning nekat melaporkan kasus kekerasan yang dialami anaknya yang dilakukan oleh temanya yang berinisial DK ini ke kantor polisi.
Pihak Sekolah yang mendengar adanya peristiwa pemukulan antar siswanya dilaporkan polisi, kaget dan bingung. Kepala sekolah pun akhirnya melakukan pertemuan dengan pihak kedua orang tua dan perwakilan dari polisi dan diknas, namun pertemuan yang mengarah untuk kembali berdamai belum terlaksana hingga saat ini.
Polres Bojonegoro membenarkan jika peristiwa pemukulan yang terjadi di sekolah favorit di Bojonegoro itu belum selesai dan masih dalam proses hukum.
“Masih dalam proses saat ini, belum kami ekspos karena kami khawatir nanti anak yang jadi korban pemukulan malah tertekan karena dibully dan sebagainya. Karena ini pelakunya anak maka kami gunakan mekanisme diversi. Kami mencoba untuk dikembalikan ke sekolah dulu untuk mencoba mediasi dengan didampingi petugas. Kami tahu ada masalah ini karena adanya laporan dan hingga saat ini belum dicabut oleh pelapor. Secepatnya kami akan mencoba kembali untuk mediasi,” kata Kapolres Bojonegoro AKBP Ary Fadli. (DETIK.com/ROS/VEM)