SUMENEP, koranmadura.com – Dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2018, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Ambunten, Sumenep, Madura, Jawa Timur bersama beberapa banom lainnya menggelar berbagai kegiatan.
Kegiatan tersebut diantaranya adalah Halaqoh Santri, Lomba Baca Puisi Santri, Pembacaan Sholawat Nariyah dan Khotmil Qur’an di setiap Ranting NU, dan Apel Kebangsaan dan Istighasah.
Khusus Jumat malam, 19 Oktober 2018, ada Ngaji Budaya Santri bersama Penyair Sandal Jepit, M Faizi di Pendopo Kecamatan Ambunten. Penyair yang jadi salah satu pengasuh di Ponpes Annuqayah Guluk-guluk itu akan dijadwalnya mengisi pada pukul 19.00 WIB.
Ketua Panitia Pelaksana, Abdul Latif Muhammad mengatakan bahwa ngaji Budaya Santri ini sengaja digelar guna untuk mengkaji ulang dan memberikan pemahaman terhadap para kaula muda, pelajar dan mahasiswa agar budaya kita tetap terjaga.
“Walisongo dulu mengajarkan kita tentang budaya, bukan malah meninggalkan apalagi menolaknya. Karena Islam besar karena akulturasi budaya yang dilakukan oleh Walisongo,” ucapnya.
Menurut Latif panggilan akrab Abdul Latif, dalam Ngaji Budaya Santri nantinya diharapkan dapat memotivasi para santri dan masyarakat secara umum agar tetap melestarikan budaya santri dalam kehidupan sehari-hari, karena budaya santrilah yang akan menjadikan hidup ini damai dan tenteram.
“Sesuai dengan tema umum HSN 2018 yaitu Bersama Santri Damailah Negeri. Jadi, kita berharap pasca kegitan ini dan seterusnya masyarakat Ambunten dan Sumenep pada umumnya untuk terus memperlihatkan budaya andhap asor antar sesama, seperti yang diajarkan para kiai di pesantren,” ucapnya
Wakil Katib MWC NU Ambunten itu menambahkan budaya yang telah menjadi tradisi para santri perlu dipupuk kembali agar kehidupan ini lebih rukun damai dan sentosa.
“Kita di NU memang diajarkan mencintai budaya yang baik oleh nenek moyang kita. Kita juga di NU tidak pernah diajarkan ujaran kebencian, untuk itu maka perlu budaya santri kita terus lestarikan,” pungkasnya. (MADANI/SOE/DIK)