Oleh: Achmad Fauzi*
Mengawali tulisan ini, saya hendak berkisah tentang sebuah film Korea berjudul Yisan. Film tentang sejarah tiga generasi dari kerajaan yang anggun, hebat dan bijaksana. Generasi pertama adalah sang kakek yang punya wibawa luar biasa bagi masyarakat. Generasi kedua pun tak kalah takjubnya, sang putra mahkota atau pewaris tahta yang mempesona rakyat. Kemudian, generasi kedua adalah sang cucu (putra mahkota), masih kecil, tetapi sudah tertanam cinta dan patriotisme di hatinya.
Namun, namanya kerajaan atau birokrasi kerajaraan tidaklah dinamis dan manis, selalu penuh intrik, ada yang diam-diam membangun kekuatan, menebar telik sandi, senyum yang menjebak, bersikap lemah lembut di depan raja, meracuni dengan fitnah hingga pura-pura bekerja untuk memperoleh jabatan. Situasi itulah yang membuat kerajaan Yisan diterpa badai keserakahan; gila jabatan dan tahta. Sehingga mereka mencoba mengudeta raja dari singgasana hingga putra mahkota mendekam di penjara.
Namun, karena kerajaan itu dipenuhi cinta, maka segala cara yang dilakukan oleh oknum-oknum itu tak manjur. Sang cucu yang mewarisi kewibahan kakeknya itu mampu membuat kerajaan menjadi damai, tenang, sejahtera dan membahagiakan. Cinta sang cucu kepada rakyat membuat kerajaan berjalan dinamis dan penuh dengan kebahagiaan.
Iya, dalam film itu, pesan yang tersirat adalah “Raja harus punya cinta”. Kedaulatan dipertahankan, tugas-tugas itu dipanggul dengan segenap tanggung jawab, hingga membuat rakyat berdaulat. Tak apa walau ia harus lelah, miskin, atau bahkan menderita. Yang penting rakyat bisa bahagia.
Kisah di atas memang hanya sebuah film, tapi bagi saya ini bukan sekadar tentang film, ini tentang kerajaan yang anggun, rajanya yang bijaksana dan penuh cinta. Sebuah kemampun seorang seniman Korea untuk melawan lupa. Ia dengan lihai menerjemahkan kebutuhan bangsanya akan kemuliaan masa lalu di tengah pusaran keserakahan, egoisme, gila harta, dan praktik adu domba. Sehingga para generasi bisa belajar dan mengagumi apa yang terjadi di masa lalu.
Pertanyaannya, disaat kita kehausan teladan, apa kita juga punya contoh di masa lalu yang bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan penyakit bangsa? Jawabannnya tentu “sangat” ada bahkan banyak. Karena diakui atau tidak, kita berasal dari sejarah, adat, dan budaya yang satu.
Pada angka “749” inilah momentum kita untuk kembali mengingat tentag perjuangan para raja yang bijaksana, anggun, cerdas dan penuh cinta pada rakyatnya. Bukan hanya Korea yang punya keagungan itu kalau kita mau menziarahi kembali keagungan sejarah pada masa kerajaan Sumenep tempo dulu.
Sekadar menyebut contoh, Arya Wiraraja misalnya, raja pertama yang dilantik pada tanggal 31 Oktober 1269 silam merupakan salah satu raja yang cerdas, hebat, dan mulia. Bahkan Arya Wiraraja dikenal sebagai seorang pakar dalam ilmu penasihat/pengatur strategi, analisanya cukup tajam dan terarah sehingga banyak yang mengira Arya Wiraja adalah seorang dukun. Yang membuat takjub ia mampu menghancurkan tentara Cina/tartar serta mengusirnya dari tanah Jawa.
Pun juga dengan generasi berikutnya, anak dari perkawinan batin Adipoday dan RA Potre Koneng, Jokotole. Ia merupakan raja yang gagah dan gigih bertempur di medan perang demi Sumenep. Jokotole merupakan raja yang berani melawan raja dari Bali yaitu Dampo Awang, yang akhirnya dimenangkan oleh Raja Jokotole dengan kesaktiannya Dampo Awang bertekuk lutut.
Selain Jokotole kita juga punya Somala. Ia berhasil menaklukkan Blambangan dan Panarukan menjadi wilayah kekuasaan Panembangan Notokusumo I. Kemudian beliau membangun keraton Sumenep yang sekarang berfungsi sebagai Pendopo Kabupaten. Selanjutnya beliau membangun Masjid Agung Sumenep 1763 dan Asta Tinggi (tempat pemakaman Raja-Raja Sumenep dan keluarganya) yang kini menjadi magnet para wisatawan religi.
Pula sekadar menyebut contoh, yaitu Sultan Abdurrachman Pakunataningrat yang bernama asli Notonegoro, ia adalah putra dari Raja Sumenep, Panembahan Notokusumo I. Sultan Abdurrachman Pakunataningrat mendapat gelar Doktor Kesusastraan dari pemerintah Inggris, karena beliau pernah membantu Letnan Gubernur Jendral Raffles untuk menterjemahkan tulisan-tulisan kuno di batu ke dalam bahasa Melayu. Beliau juga meguasai berbagai bahasa, seperti bahasa Sansekerta, Bahasa Kawi, dan sebagainya. Orang semakin takjub ketik Sultan yang satu ini juga ahli dalam bidang ilmu pengetahuan dan Agama. Disamping itu pandai membuat senjata Keris. Sultan Abdurrachman Pakunataningrat dikenal sangat bijaksana dan memperhatikan rakyat Sumenep. Tak salah jika namanya harum sampai sekarang.
Inilah yang “wajib” jadi refleksi kita di hari jadi; melawan lupa. Menampakkan kemeriahan tentu bukan sesuatu yang berlebihan, tetapi akan keterlaluan jika melupakan teladan para raja. Momentum hari jadi adalah dimana kita mengingat para raja dan pemimpin Sumenep di masa lalu. Minimal kita tahu bahwa kita punya Arya Wiraraja, Jokotole, Somala, Sultan Abdurracman hingga tokoh teladan yang lain seperti Adipodaya, Adirasa, Potre Koneng, Pangeran Bukabu, Baragung dan lainnya.
Kita sangat berharap para seniman dan budayawan kita bekerja, menggarap beberapa hal besar tentang Sumenep untuk masa depan. Sebab kita sedang kekeringan inspirasi. Tokoh-tokoh dari masa lalu itu perlu untuk selalu dihadirkan dalam ruang-ruang kosong para generasi. Jika khazanah kebudayaan kita dibuka, dihadirkan dan diperlihatkan kepada mereka, maka bukan hanya bangsa Korea yang besar atau yang punya cinta, tetapi kita juga bisa lebih besar dari mereka. Wallahu A’lam.
*Mantan Jurnalis. Saat ini Wakil Bupati Sumenep