SUMENEP, koranmadura.com – “Dulu, bertani padi tiga bulan cukup untuk hidup setahun,” demikian yang disampaikan Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi saat mengawali pembincangan dengan korannadura.com terkait Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada Selasa, 16 Oktober 2018 hari ini.
Pria yang akrab dipanggil Bang Uji itu menuturkan bahwa tempo dulu, menjadi petani adalah kebanggaan. Bagi mereka, tak ada profesi yang lebih menjanjikan selain menjadi petani. Bayangkan, lanjut suami Nia Kurnia tersebut, hanya dengan menjunjung tinggi mentalitas sebagai petani, kebutuhan tercukupi.
“Mereka tak pernah risau akan hiruk pikuk kehidupan yang serba keras, karena nafkah hidup bisa terpenuhi tanpa harus menggantungkan diri pada keharusan membeli. Karena sepanjang riwayatnya, petani sejati akan tetap menahan diri untuk membeli sandang pangan,” jelas Bang Uji.
Nah, inilah kata Wabup falsafah usang dari konsep pertahanan pangan, yang sejak berkurun-kurun lamanya telah “menyehari” dalam kehidupan petani. Karena semakin banyak komoditas yang ditanam, semakin tangguh pula seseorang tegak berdiri sebagai petani.
Maka kata Politisi PDIP ini, cukup tepat apabila masyarakat pedesaan kita disebut sebagai pahlawan pertahanan pangan. Sebab mereka harus berjuang mati-matian menggarap sawahnya agar tidak usah membeli pangan. Dalam keadaan apapun, mereka tetap tampil sebagai petani sejati.
“Lihatlah tiap pergantian musim tiba, mereka tidak pernah alpa untuk bergelimang lumpur dalam menyemai benih,” imbuhnya.
Lanjut Fauzi, para petani juga tak peduli apakah tabiat tanah mulai berubah tak ramah. Mereka juga tidak peduli iklim ekstrem telah mengubah alam yang pemurah. Mereka juga tak hirau terhadap hama yang kian mengganas serta harga bibit yang kian mahal. Belum lagi pupuk yang langka akibat ulah tengkulak.
“Tapi apapun kondisinya, mereka tetap teguh menjadi petani, menggarap lahan tiada henti. Inilah falsafah pertahanan pangan. Karena dari tangan dingin merekalah, pangan kita aman,” kata Fauzi menjelaskan.
Maka dari itu, Fauzi berharap generasi muda tak silau pada profesi lain. Ketika lulus kuliah, jangan mikir jadi PNS, dokter, polisi dan beberapa profesi lain yang dianggap menjanjikan. Karena nasi yang kita makan sehari-hari berkat dari para petani.
Sungguh miris hari ini, tak sedikit generasi muda lebih suka merantau ke negeri orang, sementara, sawahnya dibiarkan begitu saja. Maka sudah saatnya meneruskan perjuangan orang tua.
“Jangan sampai sawahnya dijual hanya gara-gara ngejar PNS. Karena dari sawah kita bisa kuliah, bahkan bisa menjadi sarjana,” jelas Fauzi.
Dengan demikian, di Hari Pangan Sedunia ini, kita harus mendorong para generasi untuk berminat menekuni dunia pertanian.
“Mari kita dorong generasi muda agar lebih berminat menekuni dunia pertanian. Sudah saatnya mereka turun ke sawah setelah lulus kuliah. Agar pangan tetap aman,” pungkasnya. (SOE/DIK)