SURABAYA, koranmadura.com – Beberapa hari ini, suhu di Jawa meningkat sehingga sinar matahari terasa menyengat. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hal tersebut masih termasuk normal berdasarkan data klimatologis 30 tahun.
Kepala Bagian Humas Masyarakat BMKG, Hary Tirto Djatmiko mengatakan, angka yang didapatkan itu berdasarkan suhu standar dan real berdasarkan pengukuran alat tanpa dipengaruhi oleh faktor sekitar.
Oleh karena itu, bila suhu dirasa lebih panas karena sudah terdampak berbagai faktor. “(Sedangkan) feels like (terasa seperti) sudah dipengaruhi oleh kondisi sekitar, seperti aktivitas kendaraan bermotor dan lain-lain sehingga pengukurannya bisa lebih tinggi,” ujarnya.
Meski angka suhu saat ini memang menunjukkan angka normal 34 sampai 37,5 derajat Celcius. Namun, suhu terasa lebih tinggi ataupun lebih rendah.
“Kalau temperatur tinggi dan kelembapan tinggi, kita merasa gerah atau panas, sangat tidak nyaman. Tapi kalau temperatur tinggi dan kelembapan rendah, kita merasa biasa-biasa saja. Tubuh kita bisa beradaptasi dengan baik,” jelas pakar Meteorolgi dari Institusi Teknologi Bandung (ITB), Zadrach Ledoufij Dupe seperti dikutip kompas.com.
Menurut catatan BMKG, kelembapan udara kurang dari 60 persen pada ketinggian 3-5 km dari permukaan. Adanya kelembapan yang rendah itu terkadang membuat orang kebingungan karena biasanya bulan Oktober sudah memasuki musim hujan.
Hingga saat ini, Pulau Jawa belum merasakan turunnya hujan. Perkiraan BMKG, musim hujan baru akan turun sekitar 10 hingga 30 hari lagi.
Musim kemarau yang panjang itu dikarenakan oleh fenomena El Nino. El Nino sendiri merupakan kondisi di mana massa udara dingin dan kering mengalir dari Australia menuju Indonesia bagian selatan khatulistiwa, terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. (TRIBUNNEWS.com/ROS/DIK)