SUMENEP, koranmadura.com – Pasangan suami-istri (Pasutri) asal Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur dikabarkan ikut menjadi korban tsunami yang melanda Palu, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu.
Informasi yang berhasil dihimpun oleh koranmadura.com, Pasutri itu ialah Suhairi dan Hamida, warga Desa Tonduk, Kecamatan/Pulau Raas. “Keduanya sudah dipastikan meninggal dunia,” kata salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Raas, Zainul kepada wartawan, Senin, 1 Oktober 2018.
Menurutnya, selain dua orang tersebut, ada seorang lagi yang hingga sekarang belum diketahui nasibnya. Ia adalah Hairus. “Hairus ini adalah anak buah Hamida dan suaminya. Pada saat kejadian ketiganya ada di satu lokasi,” tambah dia.
Dia menuturkan, berdasarkan informasi yang didapat, kedua korban tersebut meninggal akibat tersapu tsunami. “Informasinya, pada saat yang lain mengungsi, Hamida dan suaminya itu kembali ke rumahnya. Mungkin ada yang tertinggal. Tidak tahunya, sampai di rumahnya kena tsunami,” tutur dia.
Lebih lanjut Zainul menuturkan, secara umum warga Raas yang merantau ke Palu jumlahnya sekitar 100 orang. Namun kebanyakan sudah mengabarkan tentang kondisinya saat ini. “Mereka rata-rata mencari nafkah di sana,” pungkasnya.
Dikonfirmasi secara terpisah terkait kabar tersebut, termasuk langkah yang akan dilakukan pihaknya, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Abd. Rahman Riadi justru minta KK dan KTP yang bersangkutan. Hal itu untuk memastikan, bahwa mereka betul-betul penduduk kabupaten paling timur Pulau Madura ini.
Tak hanya itu, pihaknya juga minta surat keterangan kematian dari pihak yang berwenang atau hasil visum dari rumah sakit, bahwa yang bersangkutan memang telah meninggal dunia.
Jika semua itu sudah dilengkapi, lanjutnya, Pemkab bisa memfasilitasi. “Persyaratan bantuan dilengkapi. Jangan niat kita membantu malah kita dijadikan sasaran dengan aparat hukum,” katanya, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp (WA). (FATHOL ALIF/SOE/DIK)