SUMENEP, koranmadura.com – Yang tertulis akan mengabadi, yang berucap akan berlalu bersama angin. Begitulah kiranya dalam sebuah ungkapan. Buktinya, orang-orang hebat di zamannya tetap abadi meski sudah tiada. Sebut saja Chairil Anwar, Hamka, Gus Dur, RA Kartini, dll. Mereka seoalah-olah tetap hidup. Kok bisa? Karena mereka berkarya.
Mungkin itulah salah satu alasan kenapa Sayyidatul Imamah memilih untuk berkarya lewat tulisan. Sebab bagi perempuan yang masih duduk di bangku SMAN 1 Sumenep ini, hanya dengan menulis, setiap orang akan abadi. Apalagi di “Zaman Now”, kalau tak memiliki kreativitas, seperti sayur tanpa bumbu. Meski terasa, tetapi tak mampu menelan nasi untuk dikunyah.
Melalui keterampilan dalam bidang menulis, dia seolah ingin menunjukkan bahwa tugas generasi itu tidak mudah, karena mereka dipaksa untuk terus berbenah atas nama diktum sejarah yang telah ditorehkan oleh para pejuang dulu. Karena kini, seseorang sedang berjuang menakar waktu untuk menciptakan sejarah baru bagi bangsa. Tentu melalui semangat perubahan para generasi. Atas dasar itulah, ia tekun menulis.
Dari ketekunan itu, dia telah mengorbitkan tiga buku novel di usia yang masih belia. Ketiga buku tersebut berjudul “The Hidden Secret”, “Volvariella Volvacea, Cinta Gadis Bermata Hazel”, dan “Banana Choreo”.
“Dia seorang gadis tulen yang masih mencintai pria, tapi tidak pernah mau kembali menyukai mantan. Penulis sudah berumur cukup tua untuk merasakan kejombloan…,” begitulah kutipan kalimat di salah satu bukunya yang berjudul ‘Volvariella Volvacea, Cinta Gadis Bermata Hazel’.
Perempuan yang akrab disapa Dayuk ini lahir pada 18 April 2001, tepatnya di Dusun Serreh, Desa Soddara, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep.
Dayuk konsisten menulis karya fiksi sejak di bangku kelas X SMA. Tak hanya konsisten menulis novel, dia juga aktif menulis karya fiksi lainnya seperti puisi dan cerpen. “Saya konsisten menulis sejak saya punya laptop, kak. Sejak kelas sepuluh, buku pertama saya terbit,” akunya.
Mengenai proses terbitnya buku, Dayuk tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Menurutnya, awalnya dia melihat tautan yang dibagikan di akun Facebook. “Waktu itu ada yang nge-tag aku tentang lomba menulis cerpen, aku ikutkan cerpenku yang selesai dibuat. Ternyata menang jadi kontributor,” jelasnya saat dikonfirmasi.
Tak cukup menang jadi kontributor, perempuan yang mempunyai akun Facebook ‘Hiku Nara Hatsune’ tersebut terus mencari informasi tentang lomba menulis dan alamat email penerbit. “Akhirnya, aku jadi bisa sampai tahu pada penerbit yang menerima novel. Lalu membuat novel dan mengirimkannya pada penerbit lewat email. Ternyata novelku diterima dan diterbitkan,” ceritanya.
Kini, melalui tangan-tangan kreatifnya, seorang gadis dari pasangan suami-istri Adra’e dan Endang Budi Warti telah meraup keuntungan berupa royalti dari penerbit. Kurang lebih jutaan rupiah yang dia terima setiap bulannya.
Ditanya apakah ada buku yang terbaru siap terbit, dirinya masih merahasiakan judul buku terbarunya. “Yang pasti sudah siap terbit. Sekarang masih proses ISBN,” ungkapnya.
Ini Tipsnya
Kata orang menulis itu perlu bakat. Sebab tanpa bakat menulis, maka tak mungkin dia bisa berkarya. Namun, menulis bagi sebagian orang tak perlu bakat, hanya perlu latihan. Sebab menulis ibarat orang belajar naik sepeda. Pada awalnya mengerikan kalau dibayangkan, sebab takut jatuh, susah, nabrak, dan lain sebagainya, tetapi begitu sudah lancar, begitu mudah dan menyenangkan.
“Begitu juga orang yang belajar menulis, pada mulanya sangat susah, bahkan tak mampu mengeluarkan kata-kata, apalagi harus beretorika. Namun, yakinlah bahwa terus bergerak dan berlatih, maka kau akan rengkuh dunia itu,” ucap Dayuk.
Lalu apa tips cara jitu bagi penulis pemula? Bagi Dayuk, tidaklah sulit. Sebab kuncinya melahap banyak buku. Lewat membaca, kita kaya bahasa. Dari membaca, wawasan itu menjadi luas. Pula, dari membaca lahirlah ide.
Tips kedua adalah berdiskusi. Kenapa harus berdiskusi? Untuk memancing ide untuk keluar. Karena dengan diskusi dengan teman atau guru, ide akan berebutan untuk keluar. Tips selanjutnya adalah menulis. Karena teori menulis itu adalah menulis itu sendiri. “Artinya, teruslah menulis. Kalau bisa tiap hari. Karena itu yang saya lakukan sejak dulu,” katanya.
Yang tak kalah penting adalah, lanjut Dayuk, belajarlah pada lomba. “Ikuti beberapa lomba menulis. Karena dari itu, kita bisa belajar dari kesalahan. Jangan gampang putus asa, tidak juara itu biasa, karena kesempatan itu selalu ada. Yang penting selalu coba,” jelasnya sambil menutup pembicaraan. (DIDIK/SOE)