SUMENEP, koranmadura.com – Puncak pelaksanaan Hari Guru Nasional (HGN), HUT ke-73 PGRI, dan Hari Aksara Internasional yang berlangsung di Kabupaten Sumenep, Masura, Jawa Timur, berlangsung meriah, Sabtu, 17 November 2018.
Acara yang digelar di Stadion A. Yani Sumenep ini dihadiri puluhan ribu guru dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Gubernur Jatim, Ketua PB PGRI, Ketua PGRI Jawa Timur, Bupati, Wakil Bupati, serta jajaran Forkopimda setempat juga hadir.
Di hadapan mereka semua, dalam sambutannya, Bupati Sumenep, A. Busyro Karim menceritakan perjuangan para guru di daerahnya yang harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk bisa mendidik para generasi bangsa.
Menurut orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep ini, letak geografis menjadi salah satu tantangan luar biasa bagi para guru yang mungkin tidak dialami guru-guru di daerah lain di Jawa Timur. Sebab, kabupaten paling timur Pulau Madura ini terdiri dari beberapa daerah kepulauan.
“Guru-guru di Sumenep ini untuk sampai ke sekolah ada yang sampai memakan waktu berjam-jam. Misalnya dari sini (wilayah daratan) ke Pulau Masalembu, itu memakan waktu antara 14-15 jam dengan cuaca bersahabat. Jika cuaca ekstrim bisa sampai 18 jam. Ini salah satu yang membedakan guru di Sumenep dengan di daerah lain yang tidak memiliki pulau dari sisi tantangan geografis,” ungkapnya.
Untuk itu, lanjutnya, sebagai bentuk perhatian Pemkab terhadap para guru dan dunia pendidikan, ada beberapa bentuk tunjangan yang diberikan, baik kepada guru honorer kategori dua (K2) mumpun yang non K2. “Bagi guru honorer k2 di Sumenep dianggarkan sebesar Rp 8,2 miliar,” tambahnya.
Terlepas dari hal tersebut, dalam kegiatan itu, Bupati juga mempromosikan kekayaan alam di Sumenep, khususnya yang berkaiatan dengan tempat-tempat wisata. Salah satunya Pulau Giliyang di Kecamatan Dungkek.
Dia menyampaikan, Pulau Giliyang merupakan salah satu destinasi wisata yang tidak ada di daerah lain di Indonesia. Pasalnya, pulau tersebut memiliki kandungan oksigen terbaik kedua di dunia setelah Yordania. Sehingga cocok untuk kesehatan.
“Maka dari itu saya berharap, usai acara ini para guru jangan langsung pulang, sebelum menikmati destinasi wisata kesehatan di Pulau Gili Iyang dan beberapa deatinasi wisata lainnya di Sumenep, baik wisata sejarah maupun kuliner,” ujarnya. (FATHOL ALIF/ROS/VEM)